Terkadang aku bosan. Bosan menerima sms darimu. Bosan dengan semua perhatianmu. Bosan dengan sikapmu yang seolah mengkhawatirkanku dan selalu ingin melindungiku. Enam bulan yang lalu, kamu jujur padaku bahwa menyukai diriku. Namun aku menganggapmu hanya sebagai seorang kakak, tidak lebih. Kita bertemu pada sebuah ruang aspirasi, saling bertukar pikiran, mengupas masalah yang ada dan akhirnya akrab. Kamu, yang aku anggap sebagai seorang kakak, aku menyayangimu walau terkadang rasa sebal membuncah karena tingkahmu yang over.
Setiap kali, kamu kembali
mengutarakan rasa yang menggebu dalam dada mu, aku merasa seolah badai menampar
wajahku. Aku merasa tidak enak. Kamu sudah terlalu baik padaku, sangat baik dan
aku menyayangimu. Namun haruskah
kukatakan bahwa aku juga menyukaimu hanya karena rasa iba?Terkadang aku mencoba
menjauh darimu, menghilangangkan bayangan diriku dari setiap sudut pandanganmu,
mengacuhkan smsmu. Tidak, bukannya aku sombong. Ini demi kebaikanmu, agar kamu
tidak berharap terlalu banyak dariku. Aku tidak mau, engkau terlanjur membangun
istana harapan dan aku menghancurkannya dengan sekali tiupan dan akan musnah
dengan sekali kedipan mata. Maaf.
Seminggu, dua minggu, sebulan ,
tidak ada kabar darimu. Tidak ada lagi
yang menyapaku di pagi, siang, sore dan malam hari dengan sapaan khas
yang hanya dirimu yang tau. Tidak ada lagi yang menanyakan keadaaanku,
aktivitasku dan segala tetek bengek tentang diriku. Tidak ada lagi kata-kata
manis pengantar tidur yang sering kamu ucapkan melalui tulisan bisu bernama
sms. Haruskah aku jujur? Haruskah kukatakan yang sebenarnya? Aku merindukanmu.
Aku merindukan semua hal yang kamu lakukan padaku. Aku merindukan leluconmu yang
selalu menghibur hari-hariku, dulu. Dirimu yang childish namun pemikir yang
kritis, aku merindukanmu.
Ada apa denganku? Aku mencari
kata-kata yang tepat untuk menalarkan perasaan aneh ini, tapi tak kutemukan.
Hanya dapat kunalarkan pada diriku sendiri dan juga dimengerti oleh diriku
sendiri. Jemariku seringkali geli untuk menuliskan kata ‘hey’ lalu
mengirimkannya pada 12 digit angka milikmu. Lalu aku menekan tombol cancel,
berpikir sejenak apakah aku benar akan mengirimkannya kata itu? Ah, tidak perlu.
Setiap hari diriku semakin aneh. Saat handphone-ku berdering senyumku
mengambang, aku tertawa renyah menyangka itu darimu. Ketika kulihat dengan
teliti nama pengirimnya, ternyata bukan darimu. Ada sebongkah rasa kecewa,
segumpal galau yang mengadu.
Hingga disuatu pagi, handphone-ku
berdering. Ada secerca rasa ogah untuk membaca pesan yang masuk, sehingga aku
hanya mengintipnya saja. Ribuan kupu-kupu seakan menyerangku, mencoba
menggelitikku. Frekuensi degup jantungku semakin bertambah tiap detiknya, itu sms
darimu. Rasa bahagia menyelimuti hatiku. Rasa rindu melebur bersama dentuman
jarum jam. Dirimu kembali. Tapi ada yang beda, dirimu tidak sehangat yang dulu
kukenal, masihkah engkau seperti dulu?. Aku bercerita tentang kejadian yang
menarik selama dirimu tidak mengabariku, begitupun dirimu. Namun, ada satu
cerita darimu yang seolah menghentikan aliran darahku, aku kaku. Aku merasa
jauh lebih ringan seakan berat badanku turun 25kg, aku serasa melayang dibawa
oleh angin yang berhembus. Organ tubuhku tak lagi berfungsi dengan baik.
Pandanganku hampa, rasa kecewa kembali membuncah. Sesuatu yang hangat mengalir
diujung mata. Kurasakan kepedihan mengalir melalui pembuluh darahku, menjadikan
detak jantung ini melemah. Lemah dan semakin lemah.
Ada apa denganku? Aku bertanya
pada angin yang bertiup. Bukankah aku tidak menyukainya? Mengapa aku merasa
seperti ini ketika tau dia telah bersama seorang temanku. Kala kutanya sejak
kapan semua bermula, dirimu menjawab empat bulan yang lalu. Perasaanku semakin
tidak karuan. Namun, aku masih bersikap biasa saja dihadapanmu, menyembunyikan
pedang yang kini melukai diriku sendiri. Aku terluka, terluka parah.
Aku tidak ingin mengusikmu,
apalagi mengganggu ketenangan dirinya, seorang temanku. Kuakui akupun tidak
terlalu mengerti perasaan apa sebenarnya yang kusembunyikan darimu. Kini, saat
luka membelenggu, saat pekat melilit tubuhku, kuberikan senyum terindahku
untukmu dan juga temanku. Dan aku akan pergi jauh dari kehidupanmu bersama rasa
yang meggebu dalam kalbu.
Tahukah
kalian siapa dirinya?? : )
.jpg)