Wednesday, October 30, 2013

Masalah Dapat Membuat Anda Maju



Masalah Dapat Membuat Anda Maju

Seorang perempuan muda sedang berkeluh kesah pada ayahnya mengenai masalah.

"Ikutlah denganku," kata ayahnya. "Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Ia membawa putrinya ke dapur, lalu meletakkan tiga panci air ke atas kompor untuk memanaskannya. Sementara itu ia memotong beberapa wortel lalu memasukkannya ke panci yang pertama untuk memasaknya. Ke dalam air yang mulai bergolak di panci kedua ia memasukkan dua butir telur. Ke dalam panci ketiga ia memasukkan beberapa bubuk kopi. Setelah beberapa menit, ia meniriskan beberapa potongan wortel, menuangkan kopi yang telah disaring, dan dua butir telur yang telah dimasak tadi. Lalu menaruhnya di hadapan putrinya.

"Apa maksud semua ini?" tanya sang putri dengan nada kurang sabar. 

"Setiap benda ini dapat mengajarkan sesuatu pada kita tentang cara kita menangani persoalan," ayahnya menjawab. "Tadinya wortel itu keras, tetapi air yang mendidih membuatnya lunak. Sebelum dimasukkan ke dalam air mendidih, telur-telur tadi sangat mudah pecah, tetapi setelah do masukkan ke dalam air mendidih menjadi keras dan kenyal. Disamping itu, bubuk kopi mengubah air menjadi sesuatu yang lebih enak."

"Sayang,"ayahnya berkata, "engkau bisa memilih bagaimana engkau ,emamggapi masalah-masalahmu. Engkau dapat membuatnya menjadi lunak. Engkau dapat membuatnya menjadi keras. Atau engkau dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat. Semua terserah padamu."

—The Difference Maker

We all have problems
The way we solve them is what makes us different


Reblogged from my tumblr http://diraarumoon.tumblr.com/
 

Wednesday, October 23, 2013

Selamat Ulang Tahun Ke-2 Cinta


Selamat Ulang Tahun Ke-2 Cinta
The day you made me your girlfriend
Hari itu kamis. Hari keduapuluh di bulan oktober—bulan kesepuluh di tahun dua ribu sebelas. Sejak pagi aku gelisah, bagaimana jika dia yang memiliki mata yang berbinar itu tak memiliki perasaan apa pun terhadapku? Bagaimana jika ia tak merasakan debaran jantung yang tak biasa jika melihatku seperti kita aku melihatnya? Bagaimana jika ia tak merasakan nyeri yang membuat sengal di hatinya seperti yang aku rasakan? Bagaimana jika selama ini ia tak memperhatikanku seperti aku memperhatikannya inci demi inci? Apakah aku akan terluka pada akhirnya? Pertanyaan-pertanyaan itu bergantian menyelinap di pikiranku di setiap waktu. Bagaimana tidak? Nanti malam pemenang lomba akan diumumkan, dan itu berarti akan dirangkaikan dengan acara penutupan. Dan jika ia tak memiliki perasaan yang sama, haruskah aku membuang perasaan ini lalu menutup rapat-rapat pintu hati—tak ingin terluka lagi. Bagaimana jika itu yang terjadi. Beberapa bulan yang lalu aku baru saja dilukai. Hatiku dicabik-cabik oleh orang yang selalu memasang tampang tak peduli. Lantas haruskah kurasakan luka setelah luka lama saja belum mengering?

Kuperhatikan dirinya yang berbalut kaos biru dengan celana pendek berwarna cokelat. Aku menyimpan harap yang menggebu. Berharap ia menyapaku atau bahkan mengatakan sesuatu yang kutunggu. Pukul dua siang ada presentasi hasil karya tiga terbaik dari barang recycle. Karya sekolahku berhasil menempati posisi ketiga, dan aku mendapat tugas untuk mendemokan karya yang sederhana itu. Semua peserta berkumpul di aula yang berada di bawah perpustakaan sekolah asrama itu. Aula dengan jendela yang besar, dapat melihat ke semua penjuru asrama. Aku mencari sosok yang menyilaukan itu. Kutemukan ia dikerumunan perempuan-perempuan yang tak kukenali. Aku memandangnya penuh harap. Seperti seorang anak kecil yang memandangi ayahnya berharap mengeluarkan permen atau hadiah-hadiah kecil dari sakunya. Ia menoleh, aku jadi sulit bernapas. Aku mengalihkan pandang, pura-pura tak memperhatikannya. Waktu berlalu dan suara memanggil namaku—tiba giliranku. Dengan seragam putih biru lengkap, rambut sepundak dengan jepitan biru yang disematkan disisi kiri aku mulai mendemokan karya ini. Setelah itu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh juri. Tanpa perasaan gugup aku menjawab dengan pebuh percaya diri. Tiba-tiba aku sedikit gagap setelah sadar ternyata dia duduk arah pukul satu dari tempatku berdiri. Aku mencoba mengendalikan perasaanku. Mencoba bersikap normal. Dan akhirnya tugasku selesai. 

Setelah mendapat tepuk tangan riuh dari para peserta lain, aku melangkah keluar aula mencari udara segar. Ada tangan yang menarikku—temanku. Ia memintaku untuk tinggal sebentar. Dan kulihat sosok yang berdiri dibelakangnya—dia yang kupuja. Kakiku mulai gemetar dan hatiku berdebar. Dia tersenyum, aku membalasnya walau dengan ketegangan yang luar biasa. Dia kemudian mendekat. 

“Arum boleh keliling sebentar?” tanyanya polos. 

Aku hanya tersenyum pertanda setuju. Tak ada alasan untuk menolak. Kami mulai berjalan mengelilingi sekolah asrama yang cukup luas itu. Melewati asrama, lapangan utama, ruang-ruang kelas, taman dan lapangan upacara. Dia mulai menanyakan hal-hal tentang diriku. Berjalan bersamanya tak terhitung bahagia. Seperti baru saja keluar dari kepompong dan kini menjadi kupu-kupu yang paling bahagia, menikmati indahnya dunia. Hatiku semakin berdebar ketika ia bertanya lagi 
“Sudah punya pacar?” 

“Belum” jawabku singkat.

“Kenapa?”

“Belum ada yang srek”

Matanya tampak semakin berbinar. Ada nada gugup yang kutangkap dari suaranya. Ada getar di dalam tenggorokannya yang menandakan dia juga memiliki debar yang sama denganku.

“Kalau saya, kira-kira srek tidak?” tanyanya polos. Aku sedikit geli dia berkata begitu. Debar itu semakin terasa.

“Saya tidak mau ada kata kira-kira” jawabku menahan tawa. Kamu menarik napas yang cukup dalam. Desah napasmu dapat kudengar dengan jelas.

“Kalau saya, srek tidak?” tanyamu malu. Aku hanya mengangguk. Dan dengan ragu dia berkata “Jadi itu berarti…” 

Tak usai ia melanjutkan perkataannya. Kami sudah tersenyum tersipu malu. Di depan ruang matematika dia menyatakan apa yang kutunggu. Riuh suara teman kami memecah sunyi koridor—mengejek kami yang tengah dilanda bahagia.

Dan begitulah caranya. Bukan dengan bunga, kata-kata romantis apalagi hadiah manis. Sesederhana itu caranya menjadikanku bagian dari hari-harinya hingga kini. Sesederhana itu pula ia membuatku bahagia. Sesederhana itu ia membuatku gusar karena rindu. Dan sesederhana itu ia menciptakan api cemburu. Yah sesederhana itu.

Bahagia itu ketika menunggu suara dering berganti menjadi suaranya diujung telepon. Bahagia itu ketika mengetahui ia baik-baik saja. Bahagia itu ketika mendengarnya tertawa. Bahagia itu ketika dia masih bersamaku. Bahagia itu sederhana. 

Semoga tahun depan masih menjadi tahun kita. Aku akan setia padamu seperti bulan yang setia menemani malam. Aku harap kamu juga begitu, setia menemani bulan hingga ia padam.

Terima kasih untuk tahun ke-2. Mari menyusuri jalan yang tak terlihat ujungnya. Mari berlabuh pada laut yang tak terlihat tepinya. Mari menjelajah langit yang tak tau dimana batasnya.


Te amo.
Ich liebe dich
Je t’aime

Thursday, October 3, 2013

Tentang Ayah Yang Bukan Ayahku (2)



Tentang Ayah Yang Bukan Ayahku (2)

Sedang apa kamu Nak? Sibuk dengan sekolahmu atau sibuk dengan kamar kosanmu yang harus kau bersihkan? Setidaknya kamu tak selelah dulu, ketika membantu ayah membersihkan rumah kita. Melenyapkan debu-debu yang menjadi saksi bisu kehidupan kita. Kalau ayah sedang membersihkan duka dan luka yang melekat di tubuh ayah nak, agar tubuh ini mampu menjadi dinding pelindung yang kokoh untukmu. Bagaimana kabarmu nak? Tentu kau baik-baik saja. Ayah yakin Tuhan menjamah doa ayah agar tanganNya memeluk melindungimu. Kau tanya tentang ayah? Ayah baik-baik saja nak. Sama baiknya dengan tanaman yang diguyur air—kau adalah airnya nak. Air yang mengguyur tanaman, menyelinap pada tanah, menembus dan menyentuh akar dan menguatkan tanaman—begitulah kamu bagi ayah. 

Sebenarnya ayah kini bagai pantai sehabis badai—carut marut. Tapi ayah memiliki ombak yang bergulung-gulung yang mampu menggulingkan rintangan di depan sana. Karena ada ombak ini, maka kamu tak mampu melihat pantai yang sebenarnya dari kejauhan. Anak ayah yang ayah sayangi, janganlah engkau risau. Jika kamu risau, kamu hanya seperti pisau yang lama tak diasa—tak ada gunanya. Kamu tahukan ayahmu ini adalah ayah yang paling tangguh? Jadi simpan saja risaumu.

Doakan saja ayah nak. Karena doamu seperti lautan yang mampu menenggelamkan segala sesuatu. Seperti angin yang mampu menerbangkan segala sesuatu. Seperti matahari yang mampu menghangatkan segala sesuatu. Seperti korek api yang mampu menyulutkan api yang lebih besar. Begitulah. Andai saja kamu tahu betapa berharganya kamu bagi ayah nak. Ayah tak ingin menukarmu dengan segala kesenangan yang ada di dunia ini. Karena bersamamu telah membuat ayah sangat bahagia. Bahagia yang tak dapat diukur.

Ayah bepergian begitu jauh—mungkin. Tapi kamu adalah panggilan ayah untuk selalu pulang nak. Ayah lelah berada di jalan nak, ayah ingin disampingmu. Memperlakukanmu dengan panuh kasih agar kamu merasa sempurna. Tapi tak bisa. Ayah harus terus berjalan untuk membantumu membangun masa depan yang lebih baik dari ayah. Angin memang selalu mengaburkan langkah-langkah nak, tapi tidak dengan jejak langkahmu. 

Jujur saja ayah rindu nak. Rindu ketika ayah masih bisa menggendongmu yang lucu. Rindu ketika ayah menggenggam tanganmu kala menyusuri jalan bersama. Rindu ketika kamu dan ayah bermain bersama. Tawamu tak pernah ayah lupakan. Ayah rindu masa-masa itu. Sayangnya tak bisa diulang lagi. Kau sudah besar sekarang dan tentu akan malu jika kita mengulanginya sekali lagi. 

Bibir ayah selalu mengamit doa untukmu. Hati ayah selalu memanggil namamu. Rindu meraung-raung ingin bertemu. Ayah ingin pulang—berada disisimu. Engkaulah panggilan untuk pulang, engkau pula panggilan untuk berpetualang berjuang. Hati ayah bergejolak. 


***
Aneh, saya tak begitu mengenalnya tapi begitu mengidolakannya. Belum pernah bertemu dengannya, namun seketika merindunya. Aku menyayanginya—yang bukan Ayahku. Tuhan selalu memiliki rencana yang indah ayah. Lelehkan kutub dengan sulur-sulur apimu yang membara. Runtuhkan gunung-gunung yang tinggi agar tak perlu anak-anakmu lelah mendaki. Perkuat kapalmu dan bermohonlah pada angin agar menuntun layar kapalmu, hingga kamu mampu membawa anak-anakmu berlayar menaklukkan samudera. Aku menyayangimu. Mungkin terkesan aneh tapi inilah yang sebenarnya.
Dari hati

Friday, September 20, 2013

Gadis Berselimut Jingga



GADIS BERSELIMUT JINGGA

Jarum jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Gadis berselimut jingga itu terbangun dari tidurnya. Ia menatap langit-langit kamar lalu menatap ke segala arah. Dingin mulai menusuk hingga ke tulangnya, ia menarik selimut sampai dada—dingin masih terasa,entah karena air conditioner atau karena hal lain. Gadis itu meraih handphone-nya, mengutak-atik inboxnya, mencari satu nama lalu membaca kembali tulisan bisu yang berarti baginya. Tak lama, ia menghempaskan handphone-nya, menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya seketika. Otaknya mulai bekerja abnormal, membuka lembaran-lembaran lama yang disebut kenangan. Kenangan-kenangan itu bermain di otaknya. 

Kenangan itu—

Ketika ia pertama kali melihat pria itu. Dan seketika ada yang membuncah didalam dadanya. Ketika ia mulai mengenal pria itu. Ketika pria itu menyatakan perasaannya. Ketika mereka kembali bertemu dalam suasana berbeda. Ketika ia cemburu. Ketika ia kecewa. Ketika ia bahagia. Ketika mereka tertawa bersama. Ketika pandangan mereka bertemu. Ketika mereka duduk bersama dalam waktu yang lama. Ketika mereka sarapan bersama. Ketika mereka menyusuri koridor dengan jari yang saling mengait. Dan kejadian lain yang telah berlalu. Setiap lembar kejadian itu tersimpan rapi menjadi kenangan yang dapat gadis itu lihat walau dengan menutup mata karena semuanya tersimpan di memori otaknya dan juga hatinya. 

Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, memeluk bonekanya dengan erat, dan membiarkan air matanya membasahi bantal pink miliknya. Ia nampak pilu. Hidungnya mulai memerah dan matanya mulai membengkak. Ia menyadari, ada sesuatu yang menyesakkan dadanya. Rindu itu mengendap di dinding hati, gelisah itu menjalar begitu cepat mengikuti aliran darah. Ia merasa semakin dingin. Pikirannya mulai melayang memikirkan pria yang disayanginya. Matanya mulai membentuk bayang-bayang. Bayang wajah dengan mata yang berbinar. 

Nampaknya gadis itu benci dengan kegelisahannya di dini hari begini. Ia banyak kegiatan besok, ia butuh istirahat yang cukup. Gadis itu mulai menyingkap selimut jingganya, mematikan air conditioner-nya, mengangkat tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Ia menata rambutnya dan mulai melangkahkan kakinya keluar kamar—entah kemana. Ia membuka pintu putih kamarnya dan ketika masuk kembali wajahnya telah basah, begitupun dengan tangan, kaki, dan ubun-ubunnya. Ternyata ia baru saja selesai berwudhu. Ia meraih mukenah, menutup auratnya, dan menghadap Tuhan. Mungkin gadis itu ingin berkeluh kesah. Ia menyadari tak mampu untuk merangkul pria yang disayanginya itu, mengawasinya, apalagi melindunginya. Tetapi Tuhan bisa melakukan jauh dari itu semua. Jadi gadis itu meminta kepada Tuhan dalam percakapan mereka. Air matanya mulai menembus mukenahnya dan membasahi telapak tangannya yang menengadah—tulus. Gadis itu yakin bahwa Tuhan selalu mendengarkan hingga ia tak pernah bosan untuk meminta.

Rindu itu masih mengobrak-abrik hatinya. Selimut jingganya menjadi saksi bisu.

Namun selimut jingganya tak tahu satu hal—

Bahwa gadis itu menyimpan harap.

LinkWithin

wirhin content