Saturday, April 14, 2012

Cerpen : Putri Angin


Putri Angin
Aku duduk termenung di bawah pohon dekat lapangan basket. Aku tak sendiri. Ada sebuah pena di tangan kananku, dan sebuah buku gambar di pangkuanku. Pena itu menggoreskan garis-garis halus yang akhirnya membentuk sebuah wajah tokoh kartun, yah itu gambar najika si Kitchen Princess.

Larut dalam tokoh kartun kesayanganku itu dentingan bel masuk mengagetkanku dan tanpa sengaja buku gambarku terjatuh. Akupun menunduk perlahan meraihnya, tiba-tiba sebuah tangan yang basah karena keringat mendahuluiku meraihnya dan dengan suara lembutnya dengan nafas yang terengah “Ini..” . “Oh terima kasih “ kataku sambil berlalu dengan langkah yang tergesa-gesa. Jam pelajaran berikutnya adalah biologi dan aku tidak ingin melewatkannya sedetik pun jadi aku tidak berkata banyak padanya.
@@@
“Winda..aku pulang duluan yah soalnya harus ke rumah tanteku, ada acara keluarga” kata Dita, sahabatku yang berkacamata itu.
“Oh..iya tidak apa-apa kok. Eh, ingat yah nanti malam ke rumahku. Tugas kelompok kita belum selesai tuh!” kataku sambil tersenyum.
“Siip deh” jawabnya mengerlingkan mata.
Lapangan basket sekolah..
“Guys, gue lupa jam tangan gue di lapangan tuh, kalian duluan aja”
“Oke deh Afdal, gue tunggu di parkiran yah” kata Xian sambil berlalu.
Tadi gue simpan dimana yah??, kata Afdal dalam hati. Kini, matanya tertuju pada sebuah gambar cewek berambut panjang yang sedang minum secangkir teh. Gambar itu tegeletak di tanah dan sedikit tertutupi dedaunan yang gugur. Ia lalu membungkuk mengambilnya, tertera di bagian kanan bawah gambar WIND. Wind?? Angin ? . Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa ini gambar cewek yang tadi yah, tanyanya dalam hati. Eh jam gue dimana yah? Kembali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa ada di tas?. Ia pun memeriksa tasnya, dan ternyata jam digital hitam berwarna biru tua dengan merek terkenal itu ada didalam tasnya. Ia pun segera berlari menuju parkiran.
“Afdal. Lama baget sih lo!” kata Adit. Xian dan Rangga memandang sinis padanya.
“Sorry guys, lama nyarinya”. Suara motor mereka sejenak meramaikan sekolah dan akhirnya sunyi kembali.
Kamar Winda 19:20
“Wind, pengen curhat nih!!” keluh Dita.
“Curhat?? Boleh, tapi selesaikan tugas sejarah ini dulu Dit, malam ini harus selesai, kan besok udah harus di kumpul”
“Iya, yah. . . heheh,,iya deh!”
Bebeapa jam kemudian. “Akhirnya selesai juga Dit”. “Iyupz, waktunya curhat dong!!”
“haha..iya deh, silahkan” kataku sambil menghempaskan tubuhku ke tempat tidur.
“Gini loh, Xian alias si Koko akhir-akhir ini cuek banget. Sehari smsnya Cuma 2 kali “ Hai..morning cici” trus “Gud Nite cici” ih si Koko juga jarang nelfon”
“Cielah, si Dita alias Cicinya Koko..mungkin si Xian sibuk kali”
“Iya sih , I know that” . “So??” kataku. “Tapi kan bisa kabarin dia lagi dimana, biar akunya juga nggak khawatir”
“Gini, besok kamu bilang ke dia aja. Jangan di tutup-tutupin. Jadi kamu juga merasa nyaman”
“Iya juga yah, tapi kalo dia sibuk bagaimana?”
“Mh, Dit, di otak kamu itu terlalu banyak kekhawatiran. Xian pasti punya waktu kok. Masa sih dia tidak punya jam istirahat dalam schedule-nya”
“Hahah.. iya” kata Dita sambil memperbaiki posisi kacamatanya.
“Ribet yah punya pacar” kataku pada Dita. “Mh, tidak juga..menyenangkan loh. Kamu  akan punya banyak warna dalam hidup. Merah, pink, biru ungu, putih ah banyak deh. Rasanya juga beragam, coklat, strawberry, vanilla yang jelasnya seru”
“Mangnya ice cream banyak rasanya!”kataku ketus. “Belum pernah rasain sih” ledek Dita. Aku pun bangkit dari tempat tidur menuju meja belajar. Mengambil buku gambarku. Aku membuka, mencari gambar Najika yang tadi siang baru saja ku gambar. Tapi tidak ada. Hanya menyisakan sedikit potongan kepalanya saja. “Aduhh..gambarku kemana yah” keluhku. “Gambar apa?” Tanya Dita. “Gambarnya Najika. Apa tadi diambil sama cowok itu yah”
“Hah? Cowok siapa?”
“Nggak tau, tadi buku gambarku jatuh. Dia bantu ambilkan. Sepertinya dia anak basket, tapi aku tidak sempat liat mukanya Cuma liat sepatunya”
“Anak basket? Si Koko kan juga anak basket, mungkin temannya. Eh tapi tadi di lapangan basket aku Cuma liat Afdal nge-drible bola sendiri”
“Afdal? Siapa tuh?”tanyaku. “Hah? Cowok sepopuler Afdal kamu nggak tau? Diakan kapten basket kita, trus juga yang pernah ikut olimpiade fisika.dia kan Idolnya sekolah kita”
“Nggak tau tuh. Aku yang kuper kali yah hehe” . “Mungkin”. Kami berdua pun tertawa.
@@@
In Afdal eyes
Cewek itu sepertinya suka ngegambar. Sepertinya dia orang yang menyenangkan, suka ketenangan. Buktinya dia selalu duduk di bawah pohon di sana. Apa gambar yang kemarin itu gambarnya dia. Aku balikin ke dia aja deh.
“Hei, ini gambar kamu yah?”. “Ehm, iya..kamu yang kemarin kan?”
“Iya, aku Afdal, kamu?” . “Yah kamu terlalu popular untuk kenal denganku. Winda” jawabnya sambil tersenyum. “Aku pikir nama kamu putri Angin”. “Haha, loh kenapa?”. “Disini tertulis ‘Wind’ jadi aku berpikir begitu”kataku polos. “Oh, just my nickname”. “Kamu punya kapal pesiar?” tanyaku padanya. “Ah, nggak”. “Tapi nomor hp punya kan?” . “Haha..gombal, iya”. “Bagi dong”pintaku. “Memangnya sembako. Boleh “ dia pun mulai menyebutkan 12 digit angka. Setelah berterima kasih, aku pun kembali bermain basket. Si Putri Angin itu manis juga, gumamku.
Kamar Winda 23:35
Sudah larut begini aku masih belum bisa memejamkan mata. Kepikiran sms Afdal yang tadi, “Hai putri Angin”. Kuayun kakiku menuju meja belajar. Kubuka buku gambarku, mencari lembaran yang masih kosong. Ku torehkan penaku. Pena itu menari sesuka hatinya. Tanpa kusadari pena itu menggambarkan sosok cowok. Mataku menerawang, itu bukan gambar Daichi ataupun Sora dalam Kitchen Princess. Mataku yang mengantuk kini membelalak. Itu gambar Afdal, bibirku melengkung ke atas melihatnya. Dan otakku memutar rekaman yang terjadi tadi di sekolah. Astaga..ada apa denganku? Mungkinkah?.
kamar Afdal 00:05
ah, gila gue belum bisa tidur juga. tadi gue minum kopi??nggak tuh. kenapa yah? banyak pikiran? emangnya gue kakek-kakek. eh, jadi ingat putri angin. dia manis juga yah. putri Angin. dia memang seprti angin. ia hadir dalam segala suasana. kala ia hadir di teriknya siang ia memberi kesejukan, di dinginnya malam, riuhnya meramaikan kalbu, di tengah derai hujan ia  meresahkan menusuk sukma, loh, kenapa gue jadi puitis gini??






Friday, April 13, 2012

Pertemuan


PERTEMUAN

Detak jarum jam
Hari yang bergerak perlahan
Lamaku merangkak
Mencapai waktu tak terlupakan
Sang waktu kini membawaku
pada hari dimana rindu lebur jadi satu
pada jam yang enggan untuk berlalu
dan pada detik hati merasa malu

Rindu Merangkul Sepi


Rindu Merangkul Sepi

Sunyi disini
Sepi sendiri…
Melamun bersama langit malam
Mengkhayal bersama angan
Dalam kelambu bintang gemintang
Pikiranku melayang
Melayang tinggi
Menyesatkanku dalam labirin tentangmu
Mengapa dirimu menghantuiku?
Menyergap dan membawaku pada lembah kerinduan
Bisakah sejenak engkau menghilang?
Dan menghapuskan bayangmu dari pandangan mataku
Semenit saja…..
Wahai angin…….
Bisakah engkau berhenti membisikkan namanya??
Dan juga berhenti untuk meniupkan udara
Yang menggelisahkan sukma? Bisakah??

Rasa


RASA

Sesak mendesak rasa di dalam dada
Membuatku terkulai tak berdaya
Berjuta rasa
Hadir merangkul jiwa

Ku dengar alunan hati
Ku dengar teriakan sanubari
Ku dengar rintihan nurani
Ku ikuti sepenuh hati
                     
Tak dapat ku ingkari
Tak dapat ku pungkiri
Tak dapat ku menutupi
Karna inilah yang dirasakan hati

Haruskah??


HARUSKAH??

Haruskah ku mendusta nurani?
Haruskah ku membohongi sanubari?
Haruskah??
Aku mengaku bisa tapi kalbu tak bisa

Haruskah ku beranjak pergi?
Haruskah ku patahkan sayap
Yang merangkulku selama ini?
Haruskah??
                      
Sulit,,aku tak ingin mengkhianati diriku
Juga puisi sang Gibran
Haruskah ku bertarung melawan kalbu??
Haruskah ku bersembunyi di balik senyum palsu?
Sungguh,,aku tak ingin menyiksa diri..

Disini


DISINI

Disini,,
Aku terhempas kerinduan
Semilir angin seakan menampar hatiku yang galau
Ku hanya tersungging beku pada batu
Yang menatap sendu padaku

Disini,,                 
Aku tersudut hiruk pikuk
Ku tatap gunung gemunung
Yang melotot pada mataku yang layu

Disini,,
Aku bertikai dengan sunyi
Sembari mendengar
Cibiran angin kepada awan
Yang memayungiku

Sedot Pikiran


SEDOT PIKIRAN
Adakah operasi sedot pikiran itu?
Jika ada, aku ingin melakukannya
Tahukah kau mengapa?
Aku ingin melupakanmu
Ingin rasanya buku-buku tentangmu
Yang ada di perpustakaan otakku
Di sumbangkan saja, jika tak ada yang mau
Aku ingin membuang dan membakarnya
Akan ku bakar dengan api kedendamanku
Hingga ia menjadi abu kebencianku padamu
Tapi kenapa itu sulit..
Hingga aku memikirkan tentang jalan pintas
Operasi sedot pikiran
Tapi ternyata tidak ada,
tidak ada satupun dokter ahli mampu melakukannya
Kau! Kau jago matematika
Lantas tidak pandaikah kau menghitung bagaimana perasaan orang lain??
Ternyata kau lebih idiot dari badut
Kau menyuruhku melupakanmu
Setelah kau dan cinta membuka hatiku
Lalu kau masuk mengisi ruang di sana
Kau menyuruh malaikatmu membuang kuncinya
Sengaja, agar kau tidak dapat bebas keluar
dari ruang dalam hati
Agar rasaku ini abadi



Rindu


RINDU
Ada sesuatu yang berkecamuk dalam dada
Sesuatu yang mencoba menggangguku
Menciptakan kegelisahan dan kegundahan
Perasaan ini mengusikku
Tapi entah apa namanya..
Perasaan ini menggelitik saraf otakku
Menggodanya untuk berpikir tentang seseorang
Dan bola mataku menghadirkan sesosok bayang
Bayangan dirinya
Dan dengan sekejap angin membisikkan sebuah kata
Kata yang tepat untuk perasaan ini
Rindu..                       

Sekilas Tentang Dia


Sekilas tentang Dia

Adalah dia yang mampu menggetarkan jiwa
Adalah dia yang mampu hadir dalam kehampaan suasana
Adalah dia yang mampu mengubah duka menjadi suka
Adalah dia yang mampu menciptakan rindu yang membara
Dia hadir dalam gelapku
Merangkulku dengan sejuta warna
Menyergapku masuk kedalam labirin cintanya
Akupun tak pernah menyangka
Ia hadir dalam jiwa
Padahal ia tak pernah melakukan apa

Kita


KITA
Kala dinginnya malam memeluk tubuhku
Kau merangkulku
dengan selimut,     
Yang membuatku hangat
Kala hujan badai menampar jiwaku
Kau datang dari balik kabut
Memberiku payung pelindung
Lalu mengantarku ke dalam rumah hatimu
Kala mentari menyengat tubuhku
Kau merayu awan
Agar mempercepat kondensasinya
Hingga ia berubah menjadi rintik hujan
Kawan..                  
Kala kakiku ini pincang
Kau meminjamkan kakimu
Agar aku dapat berdiri tegak
Kala air mata ini meluap
Sapu tangan kasihmu mengusapnya
Sihir cintamu mengubahnya
Menjadi seulas senyum manis
Kala tawa menghiasi wajah ini
Kau membuat tawa itu semakin lebar
Kala aku berteman sepi
Kau hadir menemani
Kala oborku mati   
Tanpa cahaya yang tersisa
Kau membakarnya
Dengan mulut apimu
Kau dan aku adalah KITA
KITA, satu kata yang mewakili kau dan aku
                              

Dengar


DENGAR
Tidakkah kau dengar tangis beku mereka??
Tangisan dari hati yang meronta
Tidakkah kau dengar  jerit pilu mereka??
Jeritan dari luka berlumur nestapa
Tidakkah kau dengar desah mereka?
Merek punya suara!!
Mereka tenggelam dalam lautan penderitaan
Terperangkap dalam sangkar kemiskinan
“Kami orang melarat! Butuh makan!! Kami haus keadilan!”
Tidakkah kau merasa malu
Mereka kelaparan di negeri yang kaya
Kehausan di atas hamparan laut dan sungai


Aku Butuh


AKU BUTUH……..

Aku butuh air
untuk memadamkan gejolak api rindu yang membara dalam dada
Aku butuh lebih banyak oksigen
agar napasku tak lagi sengal,
karena gas-gas beracun rindu yang menguap di dinding paru-paru
Aku butuh hujan
agar jiwa yang tandus
 karena sengatan kegelisahan ini,
dapat subur dan menjadi kebahagiaan bagi sang bunga
Aku juga butuh mentari
agar tubuhku yang menggigil kedinginan
karena di guyur sepi
dapat merasakan hangat
Akupun butuh rembulan dan bintang gemintang
Agar mereka menyelimutiku kala malam tiba

Tangguh


TANGGUH
Merayap diatas tebing kehidupan
Melayang di atas jurang kemiskinan
Berlari di atas samudera penderitaan
Merekalah sosok yang tangguh
Yang mampu melahap segala cobaan hidup
Menjilat lahar panas
Dan mengubur nestapa
Merekalah sosok pemberani
Yang sanggup menggantungkan diri
Di atas jembatan lapuk
Mereka tetap melayang, merayap dan berlari
Dan akan terhenti bila waktunya tiba

Aku Bukanlah Orang Suci


AKU BUKAN ORANG SUCI
Aku bukanlah orang suci, yang tak pernah menggoreskan tinta hitam dalam catatanku.
Aku bukanlah orang suci, yang selalu taat pada perintahMu. Hamba kadang lalai.
Aku bukanlah orang suci, dalam balutan kain yang bersih, masih tersembunyi noda.
Aku bukanlah orang suci, keegoisan seringkali menyelimuti hati
Aku bukanlah orang suci, amarah dan kedengkian pun seringkali merajai kalbu
Aku bukanlah orang suci, terkadang lisan tak mampu terjaga
Aku bukanlah orang suci, kadang sulit untuk ikhlas
Aku bukanlah orang suci, kadang mata ini buta dan terlupa akan kehidupan yang abadi
Aku bukanlah orang suci, terkadang malas untuk berbagi
Aku bukanlah orang suci, masih ada berat hati
Aku bukanlah orang suci, lantas masih layakkah hamba menjadi tamuMu di Surga?

10 M


10 M
Dia …
Menggerogoti hatiku
Mengusik ketenanganku
Menggelitik saraf otakku
Menyergap jiwaku
Memenjarakanku dalam cerita cinta yang tak berkesudahan
Membawaku pada jurang kebingungan
Menghantui bayangku
Menyelimuti kalbu 
Memayungi ruhku
Menyesatkanku pada labirin cintanya

LinkWithin

wirhin content