Thursday, December 20, 2012

Hey, tak bisakah kamu membaca bahasa tubuhku?


Hey, tak bisakah kamu membaca bahasa tubuhku?

Bahasa tubuh yang mengisyaratkan bahasa kalbu, tak dapatkah kamu membacannya?. Kala ku bertemu denganmu, karbon dioksida dan monoksida berlomba menyelinap dalam paru-paruku, membuat dadaku pengap, sesak. Sungguh. Rasa gugup menyerbu pembuluh darah dan semua system sarafku. Aku terlihat bodoh.
Tidakkah kamu memperhatikannya?. Mata minusku seringkali berkedip dengan cepat lalu menjatuhkan pandang pada benda lain di sekitar – itu karena matamu yang berbinar terlalu menyilaukan. Saat mengenakan jaket, seringkali aku menarik ujung lengan jaketku seakan aku merasa kedinginan tapi tahukah? – aku sedang menyembunyikan rasa gugup yang dahsyat. Untuk beberapa waktu, aku menyentuh tanganmu, tahu kenapa? – aku sedang menyadarkan diriku sendiri bahwa dirimu nyata hadir di depan mata, jarak yang membunuh membuat kita hanya banyak bertemu dalam mimpi dan lamunan. 

Tidakkah kau perhatikan kakiku yang selalu gelisah? – mereka ingin melompat mengutarakan rasa bahagia pada penghuni langit. 
Ada jutaan kata yang terpenjara, aku sulit berbicara karena gugup meraja. Dirimu begitu istimewa hingga aku kehilangan kata membuatku bingung berbuat apa. Sungguh dirimu yang phlgmatis terlalu magis.
Dear (:

Thursday, November 29, 2012

Si Religius


Si Religius


Kamu yang religius telah membius hatiku. Kamu muslim taat yang selalu bertaubat sebelum kiamat. Suara merdumu saat melantunkan adzan menggetarkan jiwa agar segera bersujud. Bulir-bulir bening seusai wudhu membuatmu semakin menawan. Saat takbir kau ucap, membuat lidah tak mampu berucap, hanya bungkam. Ayat-ayat suci mulai kau bisikkan dalam sholatmu. Ketika kamu bersujud, kamu sangat absurd untuk kudefinisikan. 
Ketika pita suaramu menggetarkan ayat-ayat Al-Qur’an, gendang telinga tergelitik, mengoyak-ngoyak hati agar segera berserah diri pada Ilahi. Dari tahajjud hingga dhuha kamu tidak pernah lupa. Jemarimu menggerakkan bulir demi bulir tasbih, mengamit kata indah memuja yang penuh makna. Masjid dan dirimu adalah darah dan daging. Agama ini adalah kiblat hidupmu.


Saturday, October 20, 2012

selamat Ulang Tahun Cinta !



Setahun yang lalu, di sebuah sekolah asrama, di depan gedung perpustakaan kita berbincang. Menyusuri koridor sekolah dirimu melontarkan berbagai pertanyaan. Semua ku jawab dengan cepat dan tepat layaknya lomba cerdas cermat. Hingga pada pertanyaan yang terakhir di senja kala itu, aku terdiam sejenak. Mencoba membuka telinga lebar-lebar hingga mampu mendengarkan kata hati dengan jelas. Dan akhirnya, aku menjawab pertanyaanmu dengan jawaban yang kamu harapkan.
Masih ingatkah di malam harinya? Kala malam yang temaram, di terangi sinar bulan , kita berada di tempat yang sama menyaksikan beberapa penampilan dari panitia dan juga peserta sebagai acara penutupan. Permainan biola seorang kawan saat itu benar-benar mengusik telinga, menggelitik hati, My Love milik Westlife dimainkan dengan sempurna. Dan juga, lagu-lagu perpisahan dari panitia sempat menggoda mata untuk mengalirkan butiran-butiran bening. Malam itu, kita saling mengaitkan jemari, mengutarakan sebuah janji. Masih ingatkah?.
Malam itu terbayang dibenakku tentang hari esok. Kita akan berpisah. Lomba telah usai, dan kita akan kembali ke daerah masing-masing. Jarak akan memisahkan kita, dan entah kapan akan bertemu kembali. Malam itu, diriku risau.
Dalam keterbatasan kita karena jarak, kita menikmati petualangan. Petualangan yang mengesankan. Siapa yang menyangka, petualangan kita masih berlanjut sampai kini?. Terima kasih untuk menemaniku berpetualang selama ini. Ayo lanjutkan petualangan kita! Selamat ulang tahun Cinta !


Nananana..



Entah kata apa yang harus terucap untuk melukiskan suasana hati, kini. Entah apa yang harus kuperbuat untuk mempertontonkan film yang bermain di otak, kini. Sedih, kecewa, amarah dan bingung  melebur manjadi satu. Ingin menangis, tapi airmata enggan untuk mengalir. Dirimu meramu sedih,kecewa, amarah dan bingung sedemikian rupa hingga aku hanya mampu terdiam. Membisu. Mematung. Inginku teriak, tapi pita suara seakan putus. Inginku menangis, tapi kehabisan airmata. Inginku memberontak, tapi aku tak dapat bergerak.

Thursday, October 18, 2012

Dirimu yang Perlahan Menjauh


Dirimu yang Perlahan Menjauh


Jauh. Sejak awal kita memang jauh. Jarak tempatku berpijak dan tempatmu berpijak terpisah ratusan kilometer. Kita rasakan hangatnya mentari yang sama, kita rasakan dinginnya angin malam yang sama hanya saja jarak yang terlalu egois memisahkan kita sejauh ini. Ratusan kilometer. Kala ku teriakkan namamu disini, apakah telingamu mendengarnya? Tidak!. Itu karena kita jauh, jarak yang egois memisahkan kita sejauh ini. Tapi kuyakin akan satu hal. Hatimu pasti mendengarnya. Dapatkah mata kita saling bertemu dengan jarak sejauh ini, ratusan kilometer? Tidak!. Tapi sekali lagi kuyakin akan satu hal, mata batin kita saling bertemu dalam kejauhan. 
Walaupun jarak yang egois memisahkan kita sejauh ini, tapi tidak dengan hati kita. Otak ini tak luput dari pikiran liar yang sering kali menyesatkan kita pada hutan kegelapan. Tapi hati ini, menghasilkan sebuah sihir yang dapat memusnahkan pikiran liar itu. Kita memang hebat. Kala rindu menyerang, kala galau hampir saja melumpuhkan tubuhku dengan kepedihannya, butiran bening mengalir dari ujung mata yang tak tertahankan, rasanya aku ingin pergi. Pergi sejenak, entah kemana. Sekedar untuk menenangkan hatiku. Namun hatimu mengingatkanku, bahwa hatimu adalah tempatku mengadu. 
Perlahan, merangkak menjalani hari yang terasa lebih sulit untuk dilalui. Sungguh jarak memenjarakan kita. Rintangan semakin susah, karena level kita sudah semakin tinggi. Dan kita dihadapkan dengan rintangan yang lebih susah lagi untuk membawa kita pada level berikutnya. So,, nikmati saja semuanya.

LinkWithin

wirhin content