Bahasa tubuh yang mengisyaratkan bahasa kalbu, tak dapatkah
kamu membacannya?. Kala ku bertemu denganmu, karbon dioksida dan monoksida
berlomba menyelinap dalam paru-paruku, membuat dadaku pengap, sesak. Sungguh. Rasa
gugup menyerbu pembuluh darah dan semua system sarafku. Aku terlihat bodoh.
Tidakkah kamu memperhatikannya?. Mata minusku seringkali
berkedip dengan cepat lalu menjatuhkan pandang pada benda lain di sekitar – itu
karena matamu yang berbinar terlalu menyilaukan. Saat mengenakan jaket,
seringkali aku menarik ujung lengan jaketku seakan aku merasa kedinginan tapi
tahukah? – aku sedang menyembunyikan rasa gugup yang dahsyat. Untuk beberapa
waktu, aku menyentuh tanganmu, tahu kenapa? – aku sedang menyadarkan diriku
sendiri bahwa dirimu nyata hadir di depan mata, jarak yang membunuh membuat
kita hanya banyak bertemu dalam mimpi dan lamunan.
Tidakkah kau perhatikan kakiku yang selalu gelisah? – mereka ingin melompat mengutarakan rasa bahagia pada penghuni langit.
Tidakkah kau perhatikan kakiku yang selalu gelisah? – mereka ingin melompat mengutarakan rasa bahagia pada penghuni langit.
Ada jutaan kata yang terpenjara, aku sulit berbicara karena
gugup meraja. Dirimu begitu istimewa hingga aku kehilangan kata membuatku bingung
berbuat apa. Sungguh dirimu yang phlgmatis terlalu magis.
Dear
(:
