Thursday, July 25, 2013

Untuk Ayah yang Bukan Ayahku


Untuk Ayah yang Bukan Ayahku


Entah bagaimana aku harus memulai tulisan ini.
Aku mengenalmu—tapi tak tahu siapa namamu. Kamu mungkin tak mengenalku—tapi tahu namaku—sebatas nama. Ini memang terdengar sedikit aneh. Aku mengenalmu dari cerita seseorang, bagaimana rupamu hanya kulihat dari beberapa foto, lalu kau hidup dalam imajinasiku—tapi dirimu nyata adanya.
Satu hal yang kutahu pasti, bahwa dirimu adalah seorang ayah. Ayah yang hebat tepatnya—tapi ayahku tetap lebih hebat. Wahai Ayah yang bukan ayahku, aku mengagumimu. Dari cerita yang kudengar dari seseorang ada beberapa hal yang dapat kusimpulkan.
Kamu rapuh. Seperti batu karang, begitu tegar terlihat walau dihempas ombak berulang kali. Namun jika diperhatikan lebih dekat, ada banyak celah, banyak lubang, terkikis perlahan, perlahan—rapuh. Ini memang bukan hal yang mudah Ayah, aku dapat memahami walau tak terlalu tahu duduk perkaranya. Kau selalu saja terlihat baik-baik saja didepan mereka—anak-anakmu. Kamu menjaga wibawa dan juga perasaan mereka.

Kamu tak suka kesunyian. Ayah yang bukan ayahku,aku dapat memahami bahwa itu bukan hura-hura hingga kadang-kadang dirimu pulang malam. Hanya ada dua hal, pekerjaan atau sekedar berkumpul dengan teman. Kamu tidak egois jika berkumpul dengan teman sampai malam sedangkan anak-anakmu ada dirumah. Yang dapat kupahami, kamu tak suka kesunyian. Tinggal dirumah yang besar, anak-anakmu sibuk dengan urusan mereka sendiri, dan kamu semakin merasa sendiri. Jika kau pandangi inci demi inci rumahmu, kau dapati memori masa lalu ketika bahagia bersamamu. Kau mulai bernostalgia seorang diri, nostalgia yang membuatmu sedikit gila. Belum lagi, jika kau pandangi anak-anakmu yang sangat kau sayangi, mungkin kau akan bergumam sendiri—berhasilkah aku manjadi seorang ayah?. Inilah hingga kadang kamu kurang betah dirumah.
Banyak sekali air mata yang kuteteskan selama menulis tentangmu.

Mereka adalah apimu. Anak-anakmu adalah apimu. Selama mereka masih berkobar, kamupun akan selalu membara—berjuang demi mereka. Kamu terus bekerja keras bahkan terlalu keras hingga kadang tak memperhatikan dirimu sendiri. Hidupmu kau abdikan sepenuhnya untuk mereka. Semua yang kau lakukan selalu mengatasnamakan demi kebaikan mereka. Mungkin mereka sempat merasa terabai—merasa kau acuhkan. Wajar saja. Kamu harus memperhatikan banyak hal dalam hidupmu seorang diri. Dan kamu hanya manusia biasa yang tak mampu memperhatikan detail demi detail.
Ayah yang bukan ayahku, jaga kesehatanmu—demi  mereka. Jangan biarkan mereka mengkhawatirkanmu. Aku tak tahu pasti tentang dirimu, karena kau hanya hidup dalam imajinasiku. Kita belum pernah bercengkrama, tangan kita belum pernah saling berjabat, apalagi bertemu—belum pernah sama sekali. Apakah pendapatku tentang dirimu benar? Jika benar, tetaplah hidup dalam imajinasiku. Dan jika tidak benar, aku ingin tahu yang sebenarnya dari pertemuan yang nyata. Kamu mungkin membenciku tapi aku tidak, karena aku tak punya alasan sama sekali untuk itu. Justru aku menyayangimu walau mengenalmu hanya dalam cerita. Jika aku terlahir sebagai putrimu, aku tak perlu berkeliling dunia. Karena kuyakin, menyelami hatimu jauh lebih indah dan bermakna daripada menyelami samudera dan berkeliling dengan pikiranmu jauh lebih menyenangkan dan bermakna daripada mengelilingi benua di dunia.
Hanya ini yang dapat kutulis malam ini. Mataku sudah bengkak karena menangis sejak awal menulis judul ini. Hidungku juga mulai memerah seperti badut. Dan berulangkali aku mengusap kacamata yang mengembun lensanya karena air mata.
Ayah yang bukan ayahku semoga Tuhan menguatkan hatimu. Tetaplah membara!
Salam Hangat dariku (:
Indira Arum Puspitarani

Monday, July 22, 2013

Jika Aku Jatuh Cinta



Saya menemukan puisi ini ketika mengunjungi blog seorang kawan (:
Jika Aku Jatuh Cinta 

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(As-Syahid Sayyid Qutb)

Monday, July 15, 2013

Aku Mengagumi Makhluk Ciptaan-Mu



Aku Mengagumi Makhluk Ciptaan-Mu


Subhanallah Ya Allah, aku mengagumi makhluk ciptaan-Mu. Pria yang Engkau pertemukan denganku 1 tahun 9 bulan yang lalu. Pria yang kukagumi pikiran, hati , akhlak dan mata indahnya. Menurutku dia berbeda—sengajakah Engkau menciptakannya untukku?. Ya Allah Engkau tahukan jikalau aku menyayanginya? Engkau juga tahukan jikalau aku sangat peduli padanya?. Pastilah Engkau tahu, karena Engkau Maha Mengetahui.  Selalu kusebut namanya dalam percakapan kita setelah aku menunaikan sholat. Kusebut namanya dengan penuh harap yang diiringi air mata—aku juga tak mengerti mengapa.
Ya Allah Engkaulah yang membolak-balikkan hati manusia. Aku percaya pada firmanMu, termasuk Surah An-Nisaa di dalam Al-Qur’an—itukah alasannya Engkau pertemukan kami 1 tahun 9 bulan yang lalu?. Sungguh kukagumi makhluk ciptaanMu ini. Seringkali terlintas pikiran tentang dia diantara butiran tasbih ketika aku memujaMu. Pria yang selalu kusebut namanya dalam doa—aku menyayanginya. Dan Engkau yang selalu kupuja—aku menyayangiMu. Diapun begitu—menyayangiMu.

Friday, July 12, 2013

PERSIAPAN HARI ESOK DIMULAI HARI INI



PERSIAPAN HARI ESOK DIMULAI HARI INI
Baru-baru ini beberapa sahabat san saya mendapat kesempatan istimewa untuk makan malam bersama mantan walikota New York, Rudy Giulani dan istrinya, Judith, di Orlando, setelah acara ceramah. Saya mendapati bahwa walikota ini ternyata sosok pribadi yang sangat hangat dan menarik serta nyaman diajak berbincang. Selama percakapan kami, sudah barang tentu saya menanyakan pengalamannya selama peristiwa 9/11. Ia menceritakan kesan-kesannya tentang hari itu dan bagaimana peristiwa itu memengaruhi dirinya sebagai seorang pemimpin. Ia mengatakan bahwa para pemimpin harus siap menghadapi segala sesuatu. Mereka perlu belajar, mendapat keterampilan, dan rencana untuk setiap jenis keadaan.
“Kesuksesan anda ditentukan kemampuan anda dalam mempersiapkan diri” katanya. Ia melanjutkan dengan menjelaskan bahwa jika situasi seperti 11 September itu terjadi—yang tidak memiliki rencana persiapan sama sekali—para pemimpin harus segera mengambil tindakan dan mengandalkan persiapan apapun yang sudah ada. Dalam hal ini, latihan keadaan gawat darurat yang telah mereka ikuti. Keduanya sangat membantu ketika krisis berlangsung.
Persiapan tidak dimulai dengan apa yang anda lakukan. Persiapan dimulai dari apa yang anda percayai. Jika anda percaya bahwa kesuksesan anda esok tergantung pada apa yang anda kerjakan hari ini, maka anda akan memperlakukan hari ini dengan cara yang berbeda. Apa yang anda dapatkan esok hari tergantung pada apa yang anda percayai hari ini. Jika anda membuat persiapan hari ini, kemungkinan besar anda tidak perlu memperbaiki hari esok.
                                                                                                                               
BERFOKUSLAH PADA PERSIAPAN HARI INI SEHINGGA ANDA DAPAT MENGALAMI KESUKSESAN ESOK HARI

LinkWithin

wirhin content