Showing posts with label BlaBlaBla. Show all posts
Showing posts with label BlaBlaBla. Show all posts

Friday, September 20, 2013

Gadis Berselimut Jingga



GADIS BERSELIMUT JINGGA

Jarum jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Gadis berselimut jingga itu terbangun dari tidurnya. Ia menatap langit-langit kamar lalu menatap ke segala arah. Dingin mulai menusuk hingga ke tulangnya, ia menarik selimut sampai dada—dingin masih terasa,entah karena air conditioner atau karena hal lain. Gadis itu meraih handphone-nya, mengutak-atik inboxnya, mencari satu nama lalu membaca kembali tulisan bisu yang berarti baginya. Tak lama, ia menghempaskan handphone-nya, menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya seketika. Otaknya mulai bekerja abnormal, membuka lembaran-lembaran lama yang disebut kenangan. Kenangan-kenangan itu bermain di otaknya. 

Kenangan itu—

Ketika ia pertama kali melihat pria itu. Dan seketika ada yang membuncah didalam dadanya. Ketika ia mulai mengenal pria itu. Ketika pria itu menyatakan perasaannya. Ketika mereka kembali bertemu dalam suasana berbeda. Ketika ia cemburu. Ketika ia kecewa. Ketika ia bahagia. Ketika mereka tertawa bersama. Ketika pandangan mereka bertemu. Ketika mereka duduk bersama dalam waktu yang lama. Ketika mereka sarapan bersama. Ketika mereka menyusuri koridor dengan jari yang saling mengait. Dan kejadian lain yang telah berlalu. Setiap lembar kejadian itu tersimpan rapi menjadi kenangan yang dapat gadis itu lihat walau dengan menutup mata karena semuanya tersimpan di memori otaknya dan juga hatinya. 

Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, memeluk bonekanya dengan erat, dan membiarkan air matanya membasahi bantal pink miliknya. Ia nampak pilu. Hidungnya mulai memerah dan matanya mulai membengkak. Ia menyadari, ada sesuatu yang menyesakkan dadanya. Rindu itu mengendap di dinding hati, gelisah itu menjalar begitu cepat mengikuti aliran darah. Ia merasa semakin dingin. Pikirannya mulai melayang memikirkan pria yang disayanginya. Matanya mulai membentuk bayang-bayang. Bayang wajah dengan mata yang berbinar. 

Nampaknya gadis itu benci dengan kegelisahannya di dini hari begini. Ia banyak kegiatan besok, ia butuh istirahat yang cukup. Gadis itu mulai menyingkap selimut jingganya, mematikan air conditioner-nya, mengangkat tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Ia menata rambutnya dan mulai melangkahkan kakinya keluar kamar—entah kemana. Ia membuka pintu putih kamarnya dan ketika masuk kembali wajahnya telah basah, begitupun dengan tangan, kaki, dan ubun-ubunnya. Ternyata ia baru saja selesai berwudhu. Ia meraih mukenah, menutup auratnya, dan menghadap Tuhan. Mungkin gadis itu ingin berkeluh kesah. Ia menyadari tak mampu untuk merangkul pria yang disayanginya itu, mengawasinya, apalagi melindunginya. Tetapi Tuhan bisa melakukan jauh dari itu semua. Jadi gadis itu meminta kepada Tuhan dalam percakapan mereka. Air matanya mulai menembus mukenahnya dan membasahi telapak tangannya yang menengadah—tulus. Gadis itu yakin bahwa Tuhan selalu mendengarkan hingga ia tak pernah bosan untuk meminta.

Rindu itu masih mengobrak-abrik hatinya. Selimut jingganya menjadi saksi bisu.

Namun selimut jingganya tak tahu satu hal—

Bahwa gadis itu menyimpan harap.

Saturday, August 24, 2013

Mungkin Kamu Akan Bertanya Mengapa



Mungkin Kamu Akan Bertanya Mengapa

Jika kau berkata ingin menjadi bunga yang indah aku memilih menjadi matahari. Mungkin kamu akan bertanya mengapa aku memilih menjadi matahari, bukan kupu-kupu yang bisa terus menemani bunga.
Jika kamu berkata ingin menjadi rembulan aku tetap memilih menjadi matahari. Mungkin kamu akan bertanya mengapa aku tetap ingin menjadi matahari. Kamu mungkin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu, tetapi ketahuilah aku ingin menjadi matahari.
Jika kamu berkata ingin menjadi phoenix yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari aku akan selalu menjadi matahari. Kamu mungkin akan kecewa dengan keinginanku untuk menjadi matahari.
Tapi tahukah kamu? Saat kau menjadi bunga, aku ingin menjadi matahari agar bunga dapat terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga agar ia tumbuh, berkembang dan terus tumbuh menjadi bunga yang indah. Walau matahari menyadari ia hanya dapat memandang dari jauh dan kupu-kupulah yang akan bermain bersama bunga. Ini disebut kasih—memberi tanpa pamrih.
Saat kau menjadi bulan, aku ingin menjadi matahari agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi. Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi ketika semua makhluk mengagumi bulan siapakah yang ingat pada matahari. Matahari rela memberikan cahanyanya untuk bulan walaupun ia sendiri tak mampu menikmati cahaya bulan, dilupakan jasanya, kehilangan kemuliaannya demi bulan. Ini disebut dengan pengorbanan—menyakitkan namun layak untuk cinta.
Saat kau menjadi phoenix yang dapat terbang tinggi jauh ke langit bahkan di atas matahari, aku tetap ingin menjadi matahari agar phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia ingin dan matahari tak akan mencegahnya. Rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh, namun matahari akan selalu menyimpan cintanya yang membara. Matahari akan selalu ada kapan pun phoenix ingin untuk kembali. Tidak ada makhluk lain selain phoenix yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cintanya. Ini disebut kesetiaan—meski ditinggal pergi dan dikhianati namun tetap menanti dan mau memaafkan.
Ketahuilah, aku tidak pernah menyesal menjadi matahari bagimu.
Inspired by Turtle

Monday, July 15, 2013

Aku Mengagumi Makhluk Ciptaan-Mu



Aku Mengagumi Makhluk Ciptaan-Mu


Subhanallah Ya Allah, aku mengagumi makhluk ciptaan-Mu. Pria yang Engkau pertemukan denganku 1 tahun 9 bulan yang lalu. Pria yang kukagumi pikiran, hati , akhlak dan mata indahnya. Menurutku dia berbeda—sengajakah Engkau menciptakannya untukku?. Ya Allah Engkau tahukan jikalau aku menyayanginya? Engkau juga tahukan jikalau aku sangat peduli padanya?. Pastilah Engkau tahu, karena Engkau Maha Mengetahui.  Selalu kusebut namanya dalam percakapan kita setelah aku menunaikan sholat. Kusebut namanya dengan penuh harap yang diiringi air mata—aku juga tak mengerti mengapa.
Ya Allah Engkaulah yang membolak-balikkan hati manusia. Aku percaya pada firmanMu, termasuk Surah An-Nisaa di dalam Al-Qur’an—itukah alasannya Engkau pertemukan kami 1 tahun 9 bulan yang lalu?. Sungguh kukagumi makhluk ciptaanMu ini. Seringkali terlintas pikiran tentang dia diantara butiran tasbih ketika aku memujaMu. Pria yang selalu kusebut namanya dalam doa—aku menyayanginya. Dan Engkau yang selalu kupuja—aku menyayangiMu. Diapun begitu—menyayangiMu.

LinkWithin

wirhin content