Selamat
Ulang Tahun Ke-2 Cinta
The day you made me your
girlfriend
Hari itu kamis. Hari keduapuluh
di bulan oktober—bulan kesepuluh di tahun dua ribu sebelas. Sejak pagi aku
gelisah, bagaimana jika dia yang memiliki mata yang berbinar itu tak memiliki
perasaan apa pun terhadapku? Bagaimana jika ia tak merasakan debaran jantung
yang tak biasa jika melihatku seperti kita aku melihatnya? Bagaimana jika ia
tak merasakan nyeri yang membuat sengal di hatinya seperti yang aku rasakan? Bagaimana
jika selama ini ia tak memperhatikanku seperti aku memperhatikannya inci demi
inci? Apakah aku akan terluka pada akhirnya? Pertanyaan-pertanyaan itu
bergantian menyelinap di pikiranku di setiap waktu. Bagaimana tidak? Nanti malam
pemenang lomba akan diumumkan, dan itu berarti akan dirangkaikan dengan acara
penutupan. Dan jika ia tak memiliki perasaan yang sama, haruskah aku membuang
perasaan ini lalu menutup rapat-rapat pintu hati—tak ingin terluka lagi. Bagaimana
jika itu yang terjadi. Beberapa bulan yang lalu aku baru saja dilukai. Hatiku dicabik-cabik
oleh orang yang selalu memasang tampang tak peduli. Lantas haruskah kurasakan
luka setelah luka lama saja belum mengering?
Kuperhatikan dirinya yang
berbalut kaos biru dengan celana pendek berwarna cokelat. Aku menyimpan harap
yang menggebu. Berharap ia menyapaku atau bahkan mengatakan sesuatu yang
kutunggu. Pukul dua siang ada presentasi hasil karya tiga terbaik dari barang
recycle. Karya sekolahku berhasil menempati posisi ketiga, dan aku mendapat
tugas untuk mendemokan karya yang sederhana itu. Semua peserta berkumpul di
aula yang berada di bawah perpustakaan sekolah asrama itu. Aula dengan jendela
yang besar, dapat melihat ke semua penjuru asrama. Aku mencari sosok yang
menyilaukan itu. Kutemukan ia dikerumunan perempuan-perempuan yang tak
kukenali. Aku memandangnya penuh harap. Seperti seorang anak kecil yang
memandangi ayahnya berharap mengeluarkan permen atau hadiah-hadiah kecil dari
sakunya. Ia menoleh, aku jadi sulit bernapas. Aku mengalihkan pandang,
pura-pura tak memperhatikannya. Waktu berlalu dan suara memanggil namaku—tiba giliranku.
Dengan seragam putih biru lengkap, rambut sepundak dengan jepitan biru yang
disematkan disisi kiri aku mulai mendemokan karya ini. Setelah itu menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh juri. Tanpa perasaan gugup aku
menjawab dengan pebuh percaya diri. Tiba-tiba aku sedikit gagap setelah sadar
ternyata dia duduk arah pukul satu dari tempatku berdiri. Aku mencoba
mengendalikan perasaanku. Mencoba bersikap normal. Dan akhirnya tugasku
selesai.
Setelah mendapat tepuk tangan
riuh dari para peserta lain, aku melangkah keluar aula mencari udara segar. Ada
tangan yang menarikku—temanku. Ia memintaku untuk tinggal sebentar. Dan kulihat
sosok yang berdiri dibelakangnya—dia yang kupuja. Kakiku mulai gemetar dan
hatiku berdebar. Dia tersenyum, aku membalasnya walau dengan ketegangan yang
luar biasa. Dia kemudian mendekat.
“Arum boleh keliling sebentar?”
tanyanya polos.
Aku hanya tersenyum pertanda setuju. Tak ada alasan untuk menolak.
Kami mulai berjalan mengelilingi sekolah asrama yang cukup luas itu. Melewati asrama,
lapangan utama, ruang-ruang kelas, taman dan lapangan upacara. Dia mulai
menanyakan hal-hal tentang diriku. Berjalan bersamanya tak terhitung bahagia. Seperti
baru saja keluar dari kepompong dan kini menjadi kupu-kupu yang paling bahagia,
menikmati indahnya dunia. Hatiku semakin berdebar ketika ia bertanya lagi
“Sudah
punya pacar?”
“Belum” jawabku singkat.
“Kenapa?”
“Belum ada yang srek”
Matanya tampak semakin berbinar. Ada
nada gugup yang kutangkap dari suaranya. Ada getar di dalam tenggorokannya yang
menandakan dia juga memiliki debar yang sama denganku.
“Kalau saya, kira-kira srek
tidak?” tanyanya polos. Aku sedikit geli dia berkata begitu. Debar itu semakin
terasa.
“Saya tidak mau ada kata
kira-kira” jawabku menahan tawa. Kamu menarik napas yang cukup dalam. Desah napasmu
dapat kudengar dengan jelas.
“Kalau saya, srek tidak?” tanyamu
malu. Aku hanya mengangguk. Dan dengan ragu dia berkata “Jadi itu berarti…”
Tak usai ia melanjutkan
perkataannya. Kami sudah tersenyum tersipu malu. Di depan ruang matematika dia
menyatakan apa yang kutunggu. Riuh suara teman kami memecah sunyi koridor—mengejek
kami yang tengah dilanda bahagia.
Dan begitulah caranya. Bukan dengan
bunga, kata-kata romantis apalagi hadiah manis. Sesederhana itu caranya
menjadikanku bagian dari hari-harinya hingga kini. Sesederhana itu pula ia
membuatku bahagia. Sesederhana itu ia membuatku gusar karena rindu. Dan sesederhana
itu ia menciptakan api cemburu. Yah sesederhana itu.
Bahagia itu ketika menunggu suara
dering berganti menjadi suaranya diujung telepon. Bahagia itu ketika mengetahui
ia baik-baik saja. Bahagia itu ketika mendengarnya tertawa. Bahagia itu ketika
dia masih bersamaku. Bahagia itu sederhana.
Semoga tahun depan masih menjadi
tahun kita. Aku akan setia padamu seperti bulan yang setia menemani malam. Aku harap
kamu juga begitu, setia menemani bulan hingga ia padam.
Terima kasih untuk tahun ke-2. Mari
menyusuri jalan yang tak terlihat ujungnya. Mari berlabuh pada laut yang tak
terlihat tepinya. Mari menjelajah langit yang tak tau dimana batasnya.
Te
amo.
Ich
liebe dich
Je
t’aime