Wednesday, October 23, 2013

Selamat Ulang Tahun Ke-2 Cinta


Selamat Ulang Tahun Ke-2 Cinta
The day you made me your girlfriend
Hari itu kamis. Hari keduapuluh di bulan oktober—bulan kesepuluh di tahun dua ribu sebelas. Sejak pagi aku gelisah, bagaimana jika dia yang memiliki mata yang berbinar itu tak memiliki perasaan apa pun terhadapku? Bagaimana jika ia tak merasakan debaran jantung yang tak biasa jika melihatku seperti kita aku melihatnya? Bagaimana jika ia tak merasakan nyeri yang membuat sengal di hatinya seperti yang aku rasakan? Bagaimana jika selama ini ia tak memperhatikanku seperti aku memperhatikannya inci demi inci? Apakah aku akan terluka pada akhirnya? Pertanyaan-pertanyaan itu bergantian menyelinap di pikiranku di setiap waktu. Bagaimana tidak? Nanti malam pemenang lomba akan diumumkan, dan itu berarti akan dirangkaikan dengan acara penutupan. Dan jika ia tak memiliki perasaan yang sama, haruskah aku membuang perasaan ini lalu menutup rapat-rapat pintu hati—tak ingin terluka lagi. Bagaimana jika itu yang terjadi. Beberapa bulan yang lalu aku baru saja dilukai. Hatiku dicabik-cabik oleh orang yang selalu memasang tampang tak peduli. Lantas haruskah kurasakan luka setelah luka lama saja belum mengering?

Kuperhatikan dirinya yang berbalut kaos biru dengan celana pendek berwarna cokelat. Aku menyimpan harap yang menggebu. Berharap ia menyapaku atau bahkan mengatakan sesuatu yang kutunggu. Pukul dua siang ada presentasi hasil karya tiga terbaik dari barang recycle. Karya sekolahku berhasil menempati posisi ketiga, dan aku mendapat tugas untuk mendemokan karya yang sederhana itu. Semua peserta berkumpul di aula yang berada di bawah perpustakaan sekolah asrama itu. Aula dengan jendela yang besar, dapat melihat ke semua penjuru asrama. Aku mencari sosok yang menyilaukan itu. Kutemukan ia dikerumunan perempuan-perempuan yang tak kukenali. Aku memandangnya penuh harap. Seperti seorang anak kecil yang memandangi ayahnya berharap mengeluarkan permen atau hadiah-hadiah kecil dari sakunya. Ia menoleh, aku jadi sulit bernapas. Aku mengalihkan pandang, pura-pura tak memperhatikannya. Waktu berlalu dan suara memanggil namaku—tiba giliranku. Dengan seragam putih biru lengkap, rambut sepundak dengan jepitan biru yang disematkan disisi kiri aku mulai mendemokan karya ini. Setelah itu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh juri. Tanpa perasaan gugup aku menjawab dengan pebuh percaya diri. Tiba-tiba aku sedikit gagap setelah sadar ternyata dia duduk arah pukul satu dari tempatku berdiri. Aku mencoba mengendalikan perasaanku. Mencoba bersikap normal. Dan akhirnya tugasku selesai. 

Setelah mendapat tepuk tangan riuh dari para peserta lain, aku melangkah keluar aula mencari udara segar. Ada tangan yang menarikku—temanku. Ia memintaku untuk tinggal sebentar. Dan kulihat sosok yang berdiri dibelakangnya—dia yang kupuja. Kakiku mulai gemetar dan hatiku berdebar. Dia tersenyum, aku membalasnya walau dengan ketegangan yang luar biasa. Dia kemudian mendekat. 

“Arum boleh keliling sebentar?” tanyanya polos. 

Aku hanya tersenyum pertanda setuju. Tak ada alasan untuk menolak. Kami mulai berjalan mengelilingi sekolah asrama yang cukup luas itu. Melewati asrama, lapangan utama, ruang-ruang kelas, taman dan lapangan upacara. Dia mulai menanyakan hal-hal tentang diriku. Berjalan bersamanya tak terhitung bahagia. Seperti baru saja keluar dari kepompong dan kini menjadi kupu-kupu yang paling bahagia, menikmati indahnya dunia. Hatiku semakin berdebar ketika ia bertanya lagi 
“Sudah punya pacar?” 

“Belum” jawabku singkat.

“Kenapa?”

“Belum ada yang srek”

Matanya tampak semakin berbinar. Ada nada gugup yang kutangkap dari suaranya. Ada getar di dalam tenggorokannya yang menandakan dia juga memiliki debar yang sama denganku.

“Kalau saya, kira-kira srek tidak?” tanyanya polos. Aku sedikit geli dia berkata begitu. Debar itu semakin terasa.

“Saya tidak mau ada kata kira-kira” jawabku menahan tawa. Kamu menarik napas yang cukup dalam. Desah napasmu dapat kudengar dengan jelas.

“Kalau saya, srek tidak?” tanyamu malu. Aku hanya mengangguk. Dan dengan ragu dia berkata “Jadi itu berarti…” 

Tak usai ia melanjutkan perkataannya. Kami sudah tersenyum tersipu malu. Di depan ruang matematika dia menyatakan apa yang kutunggu. Riuh suara teman kami memecah sunyi koridor—mengejek kami yang tengah dilanda bahagia.

Dan begitulah caranya. Bukan dengan bunga, kata-kata romantis apalagi hadiah manis. Sesederhana itu caranya menjadikanku bagian dari hari-harinya hingga kini. Sesederhana itu pula ia membuatku bahagia. Sesederhana itu ia membuatku gusar karena rindu. Dan sesederhana itu ia menciptakan api cemburu. Yah sesederhana itu.

Bahagia itu ketika menunggu suara dering berganti menjadi suaranya diujung telepon. Bahagia itu ketika mengetahui ia baik-baik saja. Bahagia itu ketika mendengarnya tertawa. Bahagia itu ketika dia masih bersamaku. Bahagia itu sederhana. 

Semoga tahun depan masih menjadi tahun kita. Aku akan setia padamu seperti bulan yang setia menemani malam. Aku harap kamu juga begitu, setia menemani bulan hingga ia padam.

Terima kasih untuk tahun ke-2. Mari menyusuri jalan yang tak terlihat ujungnya. Mari berlabuh pada laut yang tak terlihat tepinya. Mari menjelajah langit yang tak tau dimana batasnya.


Te amo.
Ich liebe dich
Je t’aime

1 comment:

LinkWithin

wirhin content