Jauh. Sejak awal kita memang jauh. Jarak tempatku berpijak dan tempatmu berpijak terpisah ratusan kilometer. Kita rasakan hangatnya mentari yang sama, kita rasakan dinginnya angin malam yang sama hanya saja jarak yang terlalu egois memisahkan kita sejauh ini. Ratusan kilometer. Kala ku teriakkan namamu disini, apakah telingamu mendengarnya? Tidak!. Itu karena kita jauh, jarak yang egois memisahkan kita sejauh ini. Tapi kuyakin akan satu hal. Hatimu pasti mendengarnya. Dapatkah mata kita saling bertemu dengan jarak sejauh ini, ratusan kilometer? Tidak!. Tapi sekali lagi kuyakin akan satu hal, mata batin kita saling bertemu dalam kejauhan.
Walaupun jarak yang egois memisahkan kita sejauh ini, tapi
tidak dengan hati kita. Otak ini tak luput dari pikiran liar yang sering kali
menyesatkan kita pada hutan kegelapan. Tapi hati ini, menghasilkan sebuah sihir
yang dapat memusnahkan pikiran liar itu. Kita memang hebat. Kala rindu
menyerang, kala galau hampir saja melumpuhkan tubuhku dengan kepedihannya,
butiran bening mengalir dari ujung mata yang tak tertahankan, rasanya aku ingin
pergi. Pergi sejenak, entah kemana. Sekedar untuk menenangkan hatiku. Namun
hatimu mengingatkanku, bahwa hatimu adalah tempatku mengadu.
Perlahan, merangkak menjalani hari yang terasa lebih sulit
untuk dilalui. Sungguh jarak memenjarakan kita. Rintangan semakin susah, karena
level kita sudah semakin tinggi. Dan kita dihadapkan dengan rintangan yang
lebih susah lagi untuk membawa kita pada level berikutnya. So,, nikmati saja
semuanya.

No comments:
Post a Comment