Putri
Angin
Aku duduk
termenung di bawah pohon dekat lapangan basket. Aku tak sendiri. Ada sebuah
pena di tangan kananku, dan sebuah buku gambar di pangkuanku. Pena itu
menggoreskan garis-garis halus yang akhirnya membentuk sebuah wajah tokoh
kartun, yah itu gambar najika si Kitchen Princess.
Larut dalam tokoh
kartun kesayanganku itu dentingan bel masuk mengagetkanku dan tanpa sengaja
buku gambarku terjatuh. Akupun menunduk perlahan meraihnya, tiba-tiba sebuah
tangan yang basah karena keringat mendahuluiku meraihnya dan dengan suara
lembutnya dengan nafas yang terengah “Ini..” . “Oh terima kasih “ kataku sambil
berlalu dengan langkah yang tergesa-gesa. Jam pelajaran berikutnya adalah
biologi dan aku tidak ingin melewatkannya sedetik pun jadi aku tidak berkata
banyak padanya.
@@@
“Winda..aku pulang
duluan yah soalnya harus ke rumah tanteku, ada acara keluarga” kata Dita,
sahabatku yang berkacamata itu.
“Oh..iya tidak
apa-apa kok. Eh, ingat yah nanti malam ke rumahku. Tugas kelompok kita belum
selesai tuh!” kataku sambil tersenyum.
“Siip deh”
jawabnya mengerlingkan mata.
Lapangan
basket sekolah..
“Guys, gue lupa
jam tangan gue di lapangan tuh, kalian duluan aja”
“Oke deh Afdal,
gue tunggu di parkiran yah” kata Xian sambil berlalu.
Tadi gue simpan dimana yah??, kata Afdal dalam hati. Kini, matanya
tertuju pada sebuah gambar cewek berambut panjang yang sedang minum secangkir
teh. Gambar itu tegeletak di tanah dan sedikit tertutupi dedaunan yang gugur.
Ia lalu membungkuk mengambilnya, tertera di bagian kanan bawah gambar WIND. Wind?? Angin ? . Ia menggaruk kepalanya
yang tidak gatal. Apa ini gambar cewek
yang tadi yah, tanyanya dalam hati. Eh
jam gue dimana yah? Kembali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa ada di tas?. Ia pun memeriksa
tasnya, dan ternyata jam digital hitam berwarna biru tua dengan merek terkenal
itu ada didalam tasnya. Ia pun segera berlari menuju parkiran.
“Afdal. Lama baget
sih lo!” kata Adit. Xian dan Rangga memandang sinis padanya.
“Sorry guys, lama
nyarinya”. Suara motor mereka sejenak meramaikan sekolah dan akhirnya sunyi
kembali.
Kamar Winda 19:20
“Wind, pengen
curhat nih!!” keluh Dita.
“Curhat?? Boleh,
tapi selesaikan tugas sejarah ini dulu Dit, malam ini harus selesai, kan besok
udah harus di kumpul”
“Iya, yah. . .
heheh,,iya deh!”
Bebeapa jam
kemudian. “Akhirnya selesai juga Dit”. “Iyupz, waktunya curhat dong!!”
“haha..iya deh,
silahkan” kataku sambil menghempaskan tubuhku ke tempat tidur.
“Gini loh, Xian
alias si Koko akhir-akhir ini cuek banget. Sehari smsnya Cuma 2 kali “
Hai..morning cici” trus “Gud Nite cici” ih si Koko juga jarang nelfon”
“Cielah, si Dita
alias Cicinya Koko..mungkin si Xian sibuk kali”
“Iya sih , I know
that” . “So??” kataku. “Tapi kan bisa kabarin dia lagi dimana, biar akunya juga
nggak khawatir”
“Gini, besok kamu
bilang ke dia aja. Jangan di tutup-tutupin. Jadi kamu juga merasa nyaman”
“Iya juga yah,
tapi kalo dia sibuk bagaimana?”
“Mh, Dit, di otak
kamu itu terlalu banyak kekhawatiran. Xian pasti punya waktu kok. Masa sih dia
tidak punya jam istirahat dalam schedule-nya”
“Hahah.. iya” kata
Dita sambil memperbaiki posisi kacamatanya.
“Ribet yah punya
pacar” kataku pada Dita. “Mh, tidak juga..menyenangkan loh. Kamu akan punya banyak warna dalam hidup. Merah,
pink, biru ungu, putih ah banyak deh. Rasanya juga beragam, coklat, strawberry,
vanilla yang jelasnya seru”
“Mangnya ice cream
banyak rasanya!”kataku ketus. “Belum pernah rasain sih” ledek Dita. Aku pun
bangkit dari tempat tidur menuju meja belajar. Mengambil buku gambarku. Aku
membuka, mencari gambar Najika yang tadi siang baru saja ku gambar. Tapi tidak
ada. Hanya menyisakan sedikit potongan kepalanya saja. “Aduhh..gambarku kemana
yah” keluhku. “Gambar apa?” Tanya Dita. “Gambarnya Najika. Apa tadi diambil
sama cowok itu yah”
“Hah? Cowok
siapa?”
“Nggak tau, tadi
buku gambarku jatuh. Dia bantu ambilkan. Sepertinya dia anak basket, tapi aku
tidak sempat liat mukanya Cuma liat sepatunya”
“Anak basket? Si
Koko kan juga anak basket, mungkin temannya. Eh tapi tadi di lapangan basket
aku Cuma liat Afdal nge-drible bola sendiri”
“Afdal? Siapa
tuh?”tanyaku. “Hah? Cowok sepopuler Afdal kamu nggak tau? Diakan kapten basket
kita, trus juga yang pernah ikut olimpiade fisika.dia kan Idolnya sekolah kita”
“Nggak tau tuh.
Aku yang kuper kali yah hehe” . “Mungkin”. Kami berdua pun tertawa.
@@@
In Afdal eyes
Cewek itu sepertinya suka ngegambar. Sepertinya
dia orang yang menyenangkan, suka ketenangan. Buktinya dia selalu duduk di
bawah pohon di sana. Apa gambar yang kemarin itu gambarnya dia. Aku balikin ke
dia aja deh.
“Hei, ini gambar
kamu yah?”. “Ehm, iya..kamu yang kemarin kan?”
“Iya, aku Afdal,
kamu?” . “Yah kamu terlalu popular untuk kenal denganku. Winda” jawabnya sambil
tersenyum. “Aku pikir nama kamu putri Angin”. “Haha, loh kenapa?”. “Disini
tertulis ‘Wind’ jadi aku berpikir begitu”kataku polos. “Oh, just my nickname”.
“Kamu punya kapal pesiar?” tanyaku padanya. “Ah, nggak”. “Tapi nomor hp punya
kan?” . “Haha..gombal, iya”. “Bagi dong”pintaku. “Memangnya sembako. Boleh “
dia pun mulai menyebutkan 12 digit angka. Setelah berterima kasih, aku pun
kembali bermain basket. Si Putri Angin itu manis juga, gumamku.
Kamar Winda 23:35
Sudah larut begini
aku masih belum bisa memejamkan mata. Kepikiran sms Afdal yang tadi, “Hai putri
Angin”. Kuayun kakiku menuju meja belajar. Kubuka buku gambarku, mencari
lembaran yang masih kosong. Ku torehkan penaku. Pena itu menari sesuka hatinya.
Tanpa kusadari pena itu menggambarkan sosok cowok. Mataku menerawang, itu bukan
gambar Daichi ataupun Sora dalam Kitchen Princess. Mataku yang mengantuk kini
membelalak. Itu gambar Afdal, bibirku melengkung ke atas melihatnya. Dan otakku
memutar rekaman yang terjadi tadi di sekolah. Astaga..ada apa denganku?
Mungkinkah?.
kamar Afdal 00:05
ah, gila gue belum bisa tidur juga. tadi gue minum kopi??nggak tuh. kenapa yah? banyak pikiran? emangnya gue kakek-kakek. eh, jadi ingat putri angin. dia manis juga yah. putri Angin. dia memang seprti angin. ia hadir dalam segala suasana. kala ia hadir di teriknya siang ia memberi kesejukan, di dinginnya malam, riuhnya meramaikan kalbu, di tengah derai hujan ia meresahkan menusuk sukma, loh, kenapa gue jadi puitis gini??
kamar Afdal 00:05
ah, gila gue belum bisa tidur juga. tadi gue minum kopi??nggak tuh. kenapa yah? banyak pikiran? emangnya gue kakek-kakek. eh, jadi ingat putri angin. dia manis juga yah. putri Angin. dia memang seprti angin. ia hadir dalam segala suasana. kala ia hadir di teriknya siang ia memberi kesejukan, di dinginnya malam, riuhnya meramaikan kalbu, di tengah derai hujan ia meresahkan menusuk sukma, loh, kenapa gue jadi puitis gini??

Hai Rum.. cerpennya keren, kereeen sekali :D blognya sudah saya follow biar gak ketinggalan postingannya Arum :D mampir ke blog ku ya Rum :)
ReplyDelete