Friday, July 20, 2012

Ini Rahasia! “Aku Mengagumi Dirinya” Part 1


Ini Rahasia! “Aku Mengagumi Dirinya”
Part 1


Ku akui mengaguminya dalam diam adalah sebuah ketololan. Aku memperhatikannya dari kejauhan, tak ada satu pun geraknya yang ingin  terlewatkan oleh mata ini. Hatiku serasa bersenandung saat mendengar alunan suaranya. Sering kita berpapasan tapi aku tak berani menyapa. Selalu ingin menyapa, tapi bibir kelu terasa. Hati ini bagai magnet, menarikku untuk mendekatinya. Tapi aku tak berani, ada rasa malu, rasa ragu dan takut yang membelenggu. Kadang, saat hati ini mulai mengamuk dan aku mulai tak mampu menahan rasa siksa karena nyamuk-nyamuk cinta menusuk, akhirnya ku sapa dirinya. 
“Hai” kataku sambil mengangkat tangan kananku sambil tersenyum. Dan dia hanya tersenyum kecut. Itu sudah membuatku sangat bahagia. Selang beberapa detik, tubuhku lemas, keringat bercucuran saat angin berhembus, parah. Ingin rasanya lompat kegirangan tapi tubuh ini terlalu lemas. Hari berikutnya, selalu sama. Apa yang kurasakan dan kulakukan. Memperhatikannya, mengikuti bayangnya, mencari segala sesuatu tentangnya sampai ke dunia maya. Selalu seperti itu, meski 4 bulan telah berlalu. 
Hingga, 7 June ..di hari Kamis. Senam pagi dilanjutkan dengan olahraga sesuai dengan minat masing-masing. Tapi aku tidak suka olahraga, aku lebih suka hanyut dalam buku yang ku baca ataupun menulis puisi. Aku duduk di depan lab. Ipa  yang sunyi, dengan notebook jingga bergambar kupu-kupu yang hinggap di bunga aku membiarkan jemari ini menulis mewakili hati.
Ketika hati telah terbius oleh rasa
Ketulusan tetap terjaga untukmu
Sekalipun luka begitu terasa
Namun hati tetap merindu
Dalam kata-kata penuh makna
Sekilas membahas asa
Untuk menunggu bersama rindu
Begitulah arti cinta dalam rasa
Menunduk ikhlas untukmu

“Naura! “ suara itu menghentikan jemariku. “Eh, Dewi kenapa?” tanyaku.
“Terbalik, harusnya yang tanya begitu aku, kenapa menyendiri di sini?”
“Kan tidak suka olahraga, jadi disini aja menulis, tadi kamu juga main volley kan sama teman-teman yang lain?”
“Iya juga sih, eh nulis apa sih?pasti tentang si Agas kan?”dengan mata yang penuh selidik.
“Udah tau masih nanya” kataku sambil menjulurkan lidah.
“Aneh, suka tapi nggak mau bilang, ke lapangan yuk” tangannya meraih tanganku, dan dengan pasrah aku mengikutinya. Masih ada sekitar 3 meter, aku melihat sesosok makhluk yang membuatku takluk, ah itu dia. Bagaimana ini??. Aku tidak mau terlihat bodoh atau konyol didepannya. Ah, I have an idea. 
“Wi, habis main volley pasti capek kan? Haus kan? Ke kantin yuk”
“Iya, boleh juga, dari tadi belum minum nih Naura”. Yes, sukses. Di dalam kantin, sebisa mungkin aku berbicara tentang banyak hal sama Dewi sampai bel masuk bunyi, supaya tidak jadi ke lapangan dan bertemu Agas. “Eh, Naurak kenapa sih tidak mau bilang suka ke Agas?”tanya Dewi. “Ih, Naura! Ananda Naura Calessya. Bukan Naurak!” jawabku ketus. Dewi tertawa kegirangan. Dan, saat aku menoleh ke kanan, ku lihat dirinya dengan keringat yang bercucuran masuk ke kantin. Ah kenapa dia harus kesini? Ribuan kupu-kupu terasa menggelitik hatiku, saat ini hanya satu yang ku pinta, ku harap bel masuk segera berbunyi. Dan, Tet…Tet..Tet…akhirnya, aku tersenyum puas.

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

wirhin content