Ini
Rahasia! “Aku Mengagumi Dirinya”
Ku akui mengaguminya dalam diam adalah sebuah ketololan. Aku memperhatikannya dari kejauhan, tak ada satu pun geraknya yang ingin terlewatkan oleh mata ini. Hatiku serasa bersenandung saat mendengar alunan suaranya. Sering kita berpapasan tapi aku tak berani menyapa. Selalu ingin menyapa, tapi bibir kelu terasa. Hati ini bagai magnet, menarikku untuk mendekatinya. Tapi aku tak berani, ada rasa malu, rasa ragu dan takut yang membelenggu. Kadang, saat hati ini mulai mengamuk dan aku mulai tak mampu menahan rasa siksa karena nyamuk-nyamuk cinta menusuk, akhirnya ku sapa dirinya.
“Hai” kataku sambil mengangkat tangan kananku sambil
tersenyum. Dan dia hanya tersenyum kecut. Itu sudah membuatku sangat bahagia.
Selang beberapa detik, tubuhku lemas, keringat bercucuran saat angin berhembus,
parah. Ingin rasanya lompat kegirangan tapi tubuh ini terlalu lemas. Hari
berikutnya, selalu sama. Apa yang kurasakan dan kulakukan. Memperhatikannya,
mengikuti bayangnya, mencari segala sesuatu tentangnya sampai ke dunia maya. Selalu
seperti itu, meski 4 bulan telah berlalu.
Hingga, 7 June ..di hari Kamis. Senam pagi dilanjutkan dengan
olahraga sesuai dengan minat masing-masing. Tapi aku tidak suka olahraga, aku
lebih suka hanyut dalam buku yang ku baca ataupun menulis puisi. Aku duduk di
depan lab. Ipa yang sunyi, dengan
notebook jingga bergambar kupu-kupu yang hinggap di bunga aku membiarkan jemari
ini menulis mewakili hati.
Ketika hati telah terbius
oleh rasa
Ketulusan tetap terjaga
untukmu
Sekalipun luka begitu
terasa
Namun hati tetap merindu
Dalam kata-kata penuh
makna
Sekilas
membahas asa
Untuk
menunggu bersama rindu
Begitulah
arti cinta dalam rasa
Menunduk
ikhlas untukmu
“Naura! “ suara itu menghentikan jemariku. “Eh, Dewi kenapa?”
tanyaku.
“Terbalik, harusnya yang tanya begitu aku, kenapa menyendiri
di sini?”
“Kan tidak suka olahraga, jadi disini aja menulis, tadi kamu
juga main volley kan sama teman-teman yang lain?”
“Iya juga sih, eh nulis apa sih?pasti tentang si Agas
kan?”dengan mata yang penuh selidik.
“Udah tau masih nanya” kataku sambil menjulurkan lidah.
“Aneh, suka tapi nggak mau bilang, ke lapangan yuk” tangannya
meraih tanganku, dan dengan pasrah aku mengikutinya. Masih ada sekitar 3 meter,
aku melihat sesosok makhluk yang membuatku takluk, ah itu dia. Bagaimana ini??.
Aku tidak mau terlihat bodoh atau konyol didepannya. Ah, I have an idea.
“Wi, habis main volley pasti capek kan? Haus kan? Ke kantin
yuk”
“Iya, boleh juga, dari tadi belum minum nih Naura”. Yes,
sukses. Di dalam kantin, sebisa mungkin aku berbicara tentang banyak hal sama
Dewi sampai bel masuk bunyi, supaya tidak jadi ke lapangan dan bertemu Agas.
“Eh, Naurak kenapa sih tidak mau bilang suka ke Agas?”tanya Dewi. “Ih, Naura!
Ananda Naura Calessya. Bukan Naurak!” jawabku ketus. Dewi tertawa kegirangan.
Dan, saat aku menoleh ke kanan, ku lihat dirinya dengan keringat yang
bercucuran masuk ke kantin. Ah kenapa dia harus kesini? Ribuan kupu-kupu terasa
menggelitik hatiku, saat ini hanya satu yang ku pinta, ku harap bel masuk
segera berbunyi. Dan, Tet…Tet..Tet…akhirnya,
aku tersenyum puas.

No comments:
Post a Comment