Lima
botol infuse cukup berhasil membuat diriku sedikit membengkak. Bintik merah
khas DBD masih n betah menghiasi lenganku. Kesunyiaan dan kehampaan kamar di
rumah sakit kini tergantikan dengan meriah dan semaraknya kamarku tercinta.
Yah, setelah menginap 4 malam di rumah sakit, akhirnya hari ini aku pulang
juga.
Ada
yang membuat resah. Kamu jarang memberi kabar. Tuan Jenius aku tahu kamu sibuk
dengan penelitian dan segala tetek bengek tentang itu. Baiklah aku mengerti.
Lagipula aku juga sedang sakit dan harus banyak istirahat. Beberapa kali
jemariku geli untuk mengusikmu. Kukirimkan pesan singkat lalu mengatakan
‘’jangan kabari aku’’. Aku tahu yang kukatakan adalah palsu. Bagaimana tidak?
Sekarang aku sangat membutuhkan hadirmu, sangat rindu padamu. Sadarkah kamu
ketika membacanya? Itu hanya basa-basi belaka, agar kamu sedikit
memperhatikanku yang beberapa hari terakhir ini merasa sedikit terabaikan.
Kuraih
handphone, kucari namamu dalam kontak lalu kutekan tombol hijau. Agak lama
menunggu dan suaramu mengalir diujung sana. Ketika kata ‘’halo’’ terucap dari
bibirmu seketika pula kutekan tombol merah. Aku hanya ingin mengetahui kabarmu
dengan menganalisa suaramu. Konyol. Dari botol infuse pertama sampai yang
kelima rasa gelisah yang luar biasa mengalir bersama cairan infuse, masuk ke
pembuluh darah, membuncahkan rasa rindu yang dipompa begitu cepat oleh jantung.
Hingga
akhirnya disuatu sore kamu menelfon, ah bahagia sekali rasanya. Rasa sakit
bekas tusukan tak lagi terasa. Kuangkat dengan tangan yang sedikit bergetar.
Kita bercakap cukup lama walaupun yang kita bicarakan bukan tentang kita, namun
mendengar suaramu cukup mengobati rinduku. ‘’nanti aku telfon lagi yah’’ kala
kata-kata itu terlontar darimu, tidakkah kamu sadari ada nada tak ikhlas ketika
aku bilang ‘’iya’’. Dan aku tak rela
untuk menekan tombol merah, jadi kutunggu sampai kamu yang terlebih dahulu
menekannya.
Sungguh aku
merindukanmu Tuan Jenius yang sibuk dengan penelitiannya.

Samaji sama tuan tampan kak?
ReplyDelete