Wednesday, May 15, 2013

21 Kata Gelisah Untukmu Yang Lahir Tanggal 21



21 Kata Gelisah Untukmu Yang Lahir Tanggal 21

 
Ruang matematika
Angka-angka itu masih berbaris rapi di papan tulis. Kelas matematika memang telah usai dan teman yang lain telah meninggalkan ruang ini sedari tadi. Tapi aku memutuskan untuk tak beranjak dari bangku di barisan kedua ini----sendiri. Buku catatan yang penuh dengan rumus memuakkan kututup dan ku enyahkan dari pandangan. Aku meraih ponselku di dalam tas, membuka inbox, lalu membaca semua pesan yang telah kau kirimkan kepadaku. Tercipta senyum tipis dan tawa renyah kala membacanya. Ku buka lagi galeri, dan kulihat potret dirimu. Menatap dalam pada matamu. Seketika rasa sepi menghantui, sepi memang karena hanya aku sendiri di ruang matematika ini. Tapi bukan sepi itu yang kumaksud. 
Ada kegelisahan pada qalbu. Gelisah yang tak mampu kuterjemahkan. Ada kerinduan yang tersembunyi di balik dinding hati. Kerinduan yang begitu meresahkan. Ada bayangmu yang senantiasa membuntuti. Bayangan dirimu yang mengusik pikiran. Gelisah, rindu dan bayangmu kini menghadirkan hangat di ujung mataku---air mata. 
Entah mengapa ada gelisah. Mungkin karena diriku terlalu banyak mengkhawatirkan hal-hal tentang dirimu. Jujur aku terganggu akan rasa gelisah. Gelisah yang membuatku insomnia hampir setiap hari. Gelisah yang mengurangi selera makanku. Gelisah yang membuatku menjadi anak pendiam akhir-akhir ini. Gelisah yang membuatku enggan untuk makan ice cream, coklat dan kacang. Padahal aku tak pernah seperti ini. Sungguh aku gelisah dan aku benci perasaan gelisah ini. 
Bayangmu yang hadir dalam telur dadar sarapan pagiku selalu membuatku gelisah. Gayamu yang nyeleneh dengan dia juga membuatku gelisah. Kisahmu dan dia pun membuatku gelisah. Rasa rindu ini juga turut mencipta gelisah. Bayanganku tentang apa yang akan terjadi padamu nanti semakin membuatku gelisah. Uh, aku hampir mati karena gelisah

Entah ada berapa banyak kata gelisah dalam tulisanku ini. Tapi sungguh gelisah ini selalu mendesahkan resah. Bulir air yang mengalir hangat di ujung mata, jatuh membasahi jam tanganku. Mataku yang sedikit membengkak karena gelisah ini kupaksa untuk membelalak. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.00, suara derap langkah terdengar mengarah ke ruang matematika ini. Siswa kelas lain sudah ingin menempati ruang ini. Ku seka airmataku, rapikan kacamata, dan berjalan dengan kepala tertunduk---malu terlihat dengan mata bengkak. Aku berlari menuju ruang bahasa, berlari secepat mungkin hingga gelisah tak mampu mengejarku. Namun sia-sia, gelisah itu masih ada. Masih saja betah berdiam diri dalam hatiku. Aku benci kegelisahan ini.

1 comment:

LinkWithin

wirhin content