Ruang matematika
Angka-angka itu masih berbaris
rapi di papan tulis. Kelas matematika memang telah usai dan teman yang lain
telah meninggalkan ruang ini sedari tadi. Tapi aku memutuskan untuk tak
beranjak dari bangku di barisan kedua ini----sendiri. Buku catatan yang penuh
dengan rumus memuakkan kututup dan ku
enyahkan dari pandangan. Aku meraih ponselku di dalam tas, membuka inbox, lalu
membaca semua pesan yang telah kau kirimkan kepadaku. Tercipta senyum tipis dan
tawa renyah kala membacanya. Ku buka lagi galeri, dan kulihat potret dirimu.
Menatap dalam pada matamu. Seketika rasa sepi menghantui, sepi memang karena
hanya aku sendiri di ruang matematika ini. Tapi bukan sepi itu yang kumaksud.
Ada kegelisahan pada qalbu. Gelisah yang tak mampu kuterjemahkan. Ada kerinduan
yang tersembunyi di balik dinding hati. Kerinduan yang begitu meresahkan. Ada
bayangmu yang senantiasa membuntuti. Bayangan dirimu yang mengusik pikiran. Gelisah, rindu dan bayangmu kini menghadirkan hangat
di ujung mataku---air mata.
Entah mengapa ada gelisah. Mungkin karena diriku terlalu banyak
mengkhawatirkan hal-hal tentang dirimu. Jujur aku terganggu akan rasa gelisah. Gelisah yang membuatku insomnia hampir setiap
hari. Gelisah yang mengurangi selera makanku. Gelisah yang membuatku menjadi anak pendiam
akhir-akhir ini. Gelisah yang membuatku enggan
untuk makan ice cream, coklat dan kacang. Padahal aku tak pernah seperti ini.
Sungguh aku gelisah dan aku benci perasaan gelisah ini.
Bayangmu yang hadir dalam telur
dadar sarapan pagiku selalu membuatku gelisah.
Gayamu yang nyeleneh dengan dia juga membuatku gelisah.
Kisahmu dan dia pun membuatku gelisah. Rasa
rindu ini juga turut mencipta gelisah. Bayanganku
tentang apa yang akan terjadi padamu nanti semakin membuatku gelisah. Uh, aku hampir mati karena gelisah.
Entah ada berapa banyak kata gelisah dalam tulisanku ini. Tapi sungguh gelisah ini selalu mendesahkan resah. Bulir air yang
mengalir hangat di ujung mata, jatuh membasahi jam tanganku. Mataku yang
sedikit membengkak karena gelisah ini kupaksa
untuk membelalak. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.00, suara derap langkah
terdengar mengarah ke ruang matematika ini. Siswa kelas lain sudah ingin
menempati ruang ini. Ku seka airmataku, rapikan kacamata, dan berjalan dengan
kepala tertunduk---malu terlihat dengan mata bengkak. Aku berlari menuju ruang
bahasa, berlari secepat mungkin hingga gelisah
tak mampu mengejarku. Namun sia-sia, gelisah itu
masih ada. Masih saja betah berdiam diri dalam hatiku. Aku benci kegelisahan
ini.

Gelisah itu masih ada.
ReplyDelete