Entah bagaimana aku harus memulai tulisan ini.
Aku
mengenalmu—tapi tak tahu siapa namamu. Kamu mungkin tak mengenalku—tapi tahu
namaku—sebatas nama. Ini memang terdengar sedikit aneh. Aku mengenalmu dari
cerita seseorang, bagaimana rupamu hanya kulihat dari beberapa foto, lalu kau
hidup dalam imajinasiku—tapi dirimu nyata adanya.
Satu hal
yang kutahu pasti, bahwa dirimu adalah seorang ayah. Ayah yang hebat
tepatnya—tapi ayahku tetap lebih hebat. Wahai Ayah yang bukan ayahku, aku
mengagumimu. Dari cerita yang kudengar dari seseorang ada beberapa hal yang
dapat kusimpulkan.
Kamu
rapuh. Seperti batu karang, begitu tegar terlihat walau dihempas ombak berulang
kali. Namun jika diperhatikan lebih dekat, ada banyak celah, banyak lubang,
terkikis perlahan, perlahan—rapuh. Ini memang bukan hal yang mudah Ayah, aku
dapat memahami walau tak terlalu tahu duduk perkaranya. Kau selalu saja
terlihat baik-baik saja didepan mereka—anak-anakmu. Kamu menjaga wibawa dan
juga perasaan mereka.
Kamu tak suka kesunyian. Ayah yang bukan ayahku,aku dapat memahami bahwa itu bukan hura-hura hingga kadang-kadang dirimu pulang malam. Hanya ada dua hal, pekerjaan atau sekedar berkumpul dengan teman. Kamu tidak egois jika berkumpul dengan teman sampai malam sedangkan anak-anakmu ada dirumah. Yang dapat kupahami, kamu tak suka kesunyian. Tinggal dirumah yang besar, anak-anakmu sibuk dengan urusan mereka sendiri, dan kamu semakin merasa sendiri. Jika kau pandangi inci demi inci rumahmu, kau dapati memori masa lalu ketika bahagia bersamamu. Kau mulai bernostalgia seorang diri, nostalgia yang membuatmu sedikit gila. Belum lagi, jika kau pandangi anak-anakmu yang sangat kau sayangi, mungkin kau akan bergumam sendiri—berhasilkah aku manjadi seorang ayah?. Inilah hingga kadang kamu kurang betah dirumah.
Banyak
sekali air mata yang kuteteskan selama menulis tentangmu.
Mereka adalah apimu. Anak-anakmu adalah apimu. Selama mereka masih berkobar, kamupun akan selalu membara—berjuang demi mereka. Kamu terus bekerja keras bahkan terlalu keras hingga kadang tak memperhatikan dirimu sendiri. Hidupmu kau abdikan sepenuhnya untuk mereka. Semua yang kau lakukan selalu mengatasnamakan demi kebaikan mereka. Mungkin mereka sempat merasa terabai—merasa kau acuhkan. Wajar saja. Kamu harus memperhatikan banyak hal dalam hidupmu seorang diri. Dan kamu hanya manusia biasa yang tak mampu memperhatikan detail demi detail.
Ayah yang
bukan ayahku, jaga kesehatanmu—demi
mereka. Jangan biarkan mereka mengkhawatirkanmu. Aku tak tahu pasti
tentang dirimu, karena kau hanya hidup dalam imajinasiku. Kita belum pernah
bercengkrama, tangan kita belum pernah saling berjabat, apalagi bertemu—belum
pernah sama sekali. Apakah pendapatku tentang dirimu benar? Jika benar,
tetaplah hidup dalam imajinasiku. Dan jika tidak benar, aku ingin tahu yang
sebenarnya dari pertemuan yang nyata. Kamu mungkin membenciku tapi aku tidak,
karena aku tak punya alasan sama sekali untuk itu. Justru aku menyayangimu
walau mengenalmu hanya dalam cerita. Jika aku terlahir sebagai putrimu, aku tak
perlu berkeliling dunia. Karena kuyakin, menyelami hatimu jauh lebih indah dan
bermakna daripada menyelami samudera dan berkeliling dengan pikiranmu jauh
lebih menyenangkan dan bermakna daripada mengelilingi benua di dunia.
Hanya ini yang dapat kutulis malam ini.
Mataku sudah bengkak karena menangis sejak awal menulis judul ini. Hidungku
juga mulai memerah seperti badut. Dan berulangkali aku mengusap kacamata yang
mengembun lensanya karena air mata.
Ayah yang bukan ayahku semoga
Tuhan menguatkan hatimu. Tetaplah membara!
Salam
Hangat dariku (:
Indira
Arum Puspitarani

nice girl :)
ReplyDeletelove this blog yeeahh!
ReplyDeleteKeren kak, tapi kalau dibaca kayak dekat sekaliki sama Ayah yang bukan Ayahta?
ReplyDelete