Tentang
Ayah Yang Bukan Ayahku (2)
Sedang apa
kamu Nak? Sibuk dengan sekolahmu atau sibuk dengan kamar kosanmu yang harus kau
bersihkan? Setidaknya kamu tak selelah dulu, ketika membantu ayah membersihkan
rumah kita. Melenyapkan debu-debu yang menjadi saksi bisu kehidupan kita. Kalau
ayah sedang membersihkan duka dan luka yang melekat di tubuh ayah nak, agar
tubuh ini mampu menjadi dinding pelindung yang kokoh untukmu. Bagaimana kabarmu
nak? Tentu kau baik-baik saja. Ayah yakin Tuhan menjamah doa ayah agar
tanganNya memeluk melindungimu. Kau tanya tentang ayah? Ayah baik-baik saja
nak. Sama baiknya dengan tanaman yang diguyur air—kau adalah airnya nak. Air yang
mengguyur tanaman, menyelinap pada tanah, menembus dan menyentuh akar dan
menguatkan tanaman—begitulah kamu bagi ayah.
Sebenarnya
ayah kini bagai pantai sehabis badai—carut marut. Tapi ayah memiliki ombak yang
bergulung-gulung yang mampu menggulingkan rintangan di depan sana. Karena ada
ombak ini, maka kamu tak mampu melihat pantai yang sebenarnya dari kejauhan. Anak
ayah yang ayah sayangi, janganlah engkau risau. Jika kamu risau, kamu hanya
seperti pisau yang lama tak diasa—tak ada gunanya. Kamu tahukan ayahmu ini
adalah ayah yang paling tangguh? Jadi simpan saja risaumu.
Doakan saja
ayah nak. Karena doamu seperti lautan yang mampu menenggelamkan segala sesuatu.
Seperti angin yang mampu menerbangkan segala sesuatu. Seperti matahari yang
mampu menghangatkan segala sesuatu. Seperti korek api yang mampu menyulutkan
api yang lebih besar. Begitulah. Andai saja kamu tahu betapa berharganya kamu
bagi ayah nak. Ayah tak ingin menukarmu dengan segala kesenangan yang ada di
dunia ini. Karena bersamamu telah membuat ayah sangat bahagia. Bahagia yang tak
dapat diukur.
Ayah bepergian
begitu jauh—mungkin. Tapi kamu adalah panggilan ayah untuk selalu pulang nak. Ayah
lelah berada di jalan nak, ayah ingin disampingmu. Memperlakukanmu dengan panuh
kasih agar kamu merasa sempurna. Tapi tak bisa. Ayah harus terus berjalan untuk
membantumu membangun masa depan yang lebih baik dari ayah. Angin memang selalu
mengaburkan langkah-langkah nak, tapi tidak dengan jejak langkahmu.
Jujur saja
ayah rindu nak. Rindu ketika ayah masih bisa menggendongmu yang lucu. Rindu ketika
ayah menggenggam tanganmu kala menyusuri jalan bersama. Rindu ketika kamu dan
ayah bermain bersama. Tawamu tak pernah ayah lupakan. Ayah rindu masa-masa itu.
Sayangnya tak bisa diulang lagi. Kau sudah besar sekarang dan tentu akan malu
jika kita mengulanginya sekali lagi.
Bibir ayah
selalu mengamit doa untukmu. Hati ayah selalu memanggil namamu. Rindu meraung-raung
ingin bertemu. Ayah ingin pulang—berada disisimu. Engkaulah panggilan untuk
pulang, engkau pula panggilan untuk berpetualang berjuang. Hati ayah
bergejolak.
***
Aneh, saya tak begitu mengenalnya tapi begitu
mengidolakannya. Belum pernah bertemu dengannya, namun seketika merindunya. Aku
menyayanginya—yang bukan Ayahku. Tuhan selalu memiliki rencana yang indah ayah.
Lelehkan kutub dengan sulur-sulur apimu yang membara. Runtuhkan gunung-gunung
yang tinggi agar tak perlu anak-anakmu lelah mendaki. Perkuat kapalmu dan
bermohonlah pada angin agar menuntun layar kapalmu, hingga kamu mampu membawa anak-anakmu
berlayar menaklukkan samudera. Aku menyayangimu. Mungkin terkesan aneh tapi
inilah yang sebenarnya.
Dari
hati


Dekat sekaliki kayaknya sama Ayah yang bukan Ayahku kak?
ReplyDelete