Thursday, October 3, 2013

Tentang Ayah Yang Bukan Ayahku (2)



Tentang Ayah Yang Bukan Ayahku (2)

Sedang apa kamu Nak? Sibuk dengan sekolahmu atau sibuk dengan kamar kosanmu yang harus kau bersihkan? Setidaknya kamu tak selelah dulu, ketika membantu ayah membersihkan rumah kita. Melenyapkan debu-debu yang menjadi saksi bisu kehidupan kita. Kalau ayah sedang membersihkan duka dan luka yang melekat di tubuh ayah nak, agar tubuh ini mampu menjadi dinding pelindung yang kokoh untukmu. Bagaimana kabarmu nak? Tentu kau baik-baik saja. Ayah yakin Tuhan menjamah doa ayah agar tanganNya memeluk melindungimu. Kau tanya tentang ayah? Ayah baik-baik saja nak. Sama baiknya dengan tanaman yang diguyur air—kau adalah airnya nak. Air yang mengguyur tanaman, menyelinap pada tanah, menembus dan menyentuh akar dan menguatkan tanaman—begitulah kamu bagi ayah. 

Sebenarnya ayah kini bagai pantai sehabis badai—carut marut. Tapi ayah memiliki ombak yang bergulung-gulung yang mampu menggulingkan rintangan di depan sana. Karena ada ombak ini, maka kamu tak mampu melihat pantai yang sebenarnya dari kejauhan. Anak ayah yang ayah sayangi, janganlah engkau risau. Jika kamu risau, kamu hanya seperti pisau yang lama tak diasa—tak ada gunanya. Kamu tahukan ayahmu ini adalah ayah yang paling tangguh? Jadi simpan saja risaumu.

Doakan saja ayah nak. Karena doamu seperti lautan yang mampu menenggelamkan segala sesuatu. Seperti angin yang mampu menerbangkan segala sesuatu. Seperti matahari yang mampu menghangatkan segala sesuatu. Seperti korek api yang mampu menyulutkan api yang lebih besar. Begitulah. Andai saja kamu tahu betapa berharganya kamu bagi ayah nak. Ayah tak ingin menukarmu dengan segala kesenangan yang ada di dunia ini. Karena bersamamu telah membuat ayah sangat bahagia. Bahagia yang tak dapat diukur.

Ayah bepergian begitu jauh—mungkin. Tapi kamu adalah panggilan ayah untuk selalu pulang nak. Ayah lelah berada di jalan nak, ayah ingin disampingmu. Memperlakukanmu dengan panuh kasih agar kamu merasa sempurna. Tapi tak bisa. Ayah harus terus berjalan untuk membantumu membangun masa depan yang lebih baik dari ayah. Angin memang selalu mengaburkan langkah-langkah nak, tapi tidak dengan jejak langkahmu. 

Jujur saja ayah rindu nak. Rindu ketika ayah masih bisa menggendongmu yang lucu. Rindu ketika ayah menggenggam tanganmu kala menyusuri jalan bersama. Rindu ketika kamu dan ayah bermain bersama. Tawamu tak pernah ayah lupakan. Ayah rindu masa-masa itu. Sayangnya tak bisa diulang lagi. Kau sudah besar sekarang dan tentu akan malu jika kita mengulanginya sekali lagi. 

Bibir ayah selalu mengamit doa untukmu. Hati ayah selalu memanggil namamu. Rindu meraung-raung ingin bertemu. Ayah ingin pulang—berada disisimu. Engkaulah panggilan untuk pulang, engkau pula panggilan untuk berpetualang berjuang. Hati ayah bergejolak. 


***
Aneh, saya tak begitu mengenalnya tapi begitu mengidolakannya. Belum pernah bertemu dengannya, namun seketika merindunya. Aku menyayanginya—yang bukan Ayahku. Tuhan selalu memiliki rencana yang indah ayah. Lelehkan kutub dengan sulur-sulur apimu yang membara. Runtuhkan gunung-gunung yang tinggi agar tak perlu anak-anakmu lelah mendaki. Perkuat kapalmu dan bermohonlah pada angin agar menuntun layar kapalmu, hingga kamu mampu membawa anak-anakmu berlayar menaklukkan samudera. Aku menyayangimu. Mungkin terkesan aneh tapi inilah yang sebenarnya.
Dari hati

1 comment:

LinkWithin

wirhin content