Tuesday, April 16, 2013

RINDU


RINDU

 
Lima botol infuse cukup berhasil membuat diriku sedikit membengkak. Bintik merah khas DBD masih n betah menghiasi lenganku. Kesunyiaan dan kehampaan kamar di rumah sakit kini tergantikan dengan meriah dan semaraknya kamarku tercinta. Yah, setelah menginap 4 malam di rumah sakit, akhirnya hari ini aku pulang juga. 
Ada yang membuat resah. Kamu jarang memberi kabar. Tuan Jenius aku tahu kamu sibuk dengan penelitian dan segala tetek bengek tentang itu. Baiklah aku mengerti. Lagipula aku juga sedang sakit dan harus banyak istirahat. Beberapa kali jemariku geli untuk mengusikmu. Kukirimkan pesan singkat lalu mengatakan ‘’jangan kabari aku’’. Aku tahu yang kukatakan adalah palsu. Bagaimana tidak? Sekarang aku sangat membutuhkan hadirmu, sangat rindu padamu. Sadarkah kamu ketika membacanya? Itu hanya basa-basi belaka, agar kamu sedikit memperhatikanku yang beberapa hari terakhir ini merasa sedikit terabaikan. 
Kuraih handphone, kucari namamu dalam kontak lalu kutekan tombol hijau. Agak lama menunggu dan suaramu mengalir diujung sana. Ketika kata ‘’halo’’ terucap dari bibirmu seketika pula kutekan tombol merah. Aku hanya ingin mengetahui kabarmu dengan menganalisa suaramu. Konyol. Dari botol infuse pertama sampai yang kelima rasa gelisah yang luar biasa mengalir bersama cairan infuse, masuk ke pembuluh darah, membuncahkan rasa rindu yang dipompa begitu cepat oleh jantung. 
Hingga akhirnya disuatu sore kamu menelfon, ah bahagia sekali rasanya. Rasa sakit bekas tusukan tak lagi terasa. Kuangkat dengan tangan yang sedikit bergetar. Kita bercakap cukup lama walaupun yang kita bicarakan bukan tentang kita, namun mendengar suaramu cukup mengobati rinduku. ‘’nanti aku telfon lagi yah’’ kala kata-kata itu terlontar darimu, tidakkah kamu sadari ada nada tak ikhlas ketika aku bilang ‘’iya’’.  Dan aku tak rela untuk menekan tombol merah, jadi kutunggu sampai kamu yang terlebih dahulu menekannya. 
Sungguh aku merindukanmu Tuan Jenius yang sibuk dengan penelitiannya.

Thursday, December 20, 2012

Hey, tak bisakah kamu membaca bahasa tubuhku?


Hey, tak bisakah kamu membaca bahasa tubuhku?

Bahasa tubuh yang mengisyaratkan bahasa kalbu, tak dapatkah kamu membacannya?. Kala ku bertemu denganmu, karbon dioksida dan monoksida berlomba menyelinap dalam paru-paruku, membuat dadaku pengap, sesak. Sungguh. Rasa gugup menyerbu pembuluh darah dan semua system sarafku. Aku terlihat bodoh.
Tidakkah kamu memperhatikannya?. Mata minusku seringkali berkedip dengan cepat lalu menjatuhkan pandang pada benda lain di sekitar – itu karena matamu yang berbinar terlalu menyilaukan. Saat mengenakan jaket, seringkali aku menarik ujung lengan jaketku seakan aku merasa kedinginan tapi tahukah? – aku sedang menyembunyikan rasa gugup yang dahsyat. Untuk beberapa waktu, aku menyentuh tanganmu, tahu kenapa? – aku sedang menyadarkan diriku sendiri bahwa dirimu nyata hadir di depan mata, jarak yang membunuh membuat kita hanya banyak bertemu dalam mimpi dan lamunan. 

Tidakkah kau perhatikan kakiku yang selalu gelisah? – mereka ingin melompat mengutarakan rasa bahagia pada penghuni langit. 
Ada jutaan kata yang terpenjara, aku sulit berbicara karena gugup meraja. Dirimu begitu istimewa hingga aku kehilangan kata membuatku bingung berbuat apa. Sungguh dirimu yang phlgmatis terlalu magis.
Dear (:

Thursday, November 29, 2012

Si Religius


Si Religius


Kamu yang religius telah membius hatiku. Kamu muslim taat yang selalu bertaubat sebelum kiamat. Suara merdumu saat melantunkan adzan menggetarkan jiwa agar segera bersujud. Bulir-bulir bening seusai wudhu membuatmu semakin menawan. Saat takbir kau ucap, membuat lidah tak mampu berucap, hanya bungkam. Ayat-ayat suci mulai kau bisikkan dalam sholatmu. Ketika kamu bersujud, kamu sangat absurd untuk kudefinisikan. 
Ketika pita suaramu menggetarkan ayat-ayat Al-Qur’an, gendang telinga tergelitik, mengoyak-ngoyak hati agar segera berserah diri pada Ilahi. Dari tahajjud hingga dhuha kamu tidak pernah lupa. Jemarimu menggerakkan bulir demi bulir tasbih, mengamit kata indah memuja yang penuh makna. Masjid dan dirimu adalah darah dan daging. Agama ini adalah kiblat hidupmu.


Saturday, October 20, 2012

selamat Ulang Tahun Cinta !



Setahun yang lalu, di sebuah sekolah asrama, di depan gedung perpustakaan kita berbincang. Menyusuri koridor sekolah dirimu melontarkan berbagai pertanyaan. Semua ku jawab dengan cepat dan tepat layaknya lomba cerdas cermat. Hingga pada pertanyaan yang terakhir di senja kala itu, aku terdiam sejenak. Mencoba membuka telinga lebar-lebar hingga mampu mendengarkan kata hati dengan jelas. Dan akhirnya, aku menjawab pertanyaanmu dengan jawaban yang kamu harapkan.
Masih ingatkah di malam harinya? Kala malam yang temaram, di terangi sinar bulan , kita berada di tempat yang sama menyaksikan beberapa penampilan dari panitia dan juga peserta sebagai acara penutupan. Permainan biola seorang kawan saat itu benar-benar mengusik telinga, menggelitik hati, My Love milik Westlife dimainkan dengan sempurna. Dan juga, lagu-lagu perpisahan dari panitia sempat menggoda mata untuk mengalirkan butiran-butiran bening. Malam itu, kita saling mengaitkan jemari, mengutarakan sebuah janji. Masih ingatkah?.
Malam itu terbayang dibenakku tentang hari esok. Kita akan berpisah. Lomba telah usai, dan kita akan kembali ke daerah masing-masing. Jarak akan memisahkan kita, dan entah kapan akan bertemu kembali. Malam itu, diriku risau.
Dalam keterbatasan kita karena jarak, kita menikmati petualangan. Petualangan yang mengesankan. Siapa yang menyangka, petualangan kita masih berlanjut sampai kini?. Terima kasih untuk menemaniku berpetualang selama ini. Ayo lanjutkan petualangan kita! Selamat ulang tahun Cinta !


Nananana..



Entah kata apa yang harus terucap untuk melukiskan suasana hati, kini. Entah apa yang harus kuperbuat untuk mempertontonkan film yang bermain di otak, kini. Sedih, kecewa, amarah dan bingung  melebur manjadi satu. Ingin menangis, tapi airmata enggan untuk mengalir. Dirimu meramu sedih,kecewa, amarah dan bingung sedemikian rupa hingga aku hanya mampu terdiam. Membisu. Mematung. Inginku teriak, tapi pita suara seakan putus. Inginku menangis, tapi kehabisan airmata. Inginku memberontak, tapi aku tak dapat bergerak.

LinkWithin

wirhin content