Saturday, August 24, 2013

Mungkin Kamu Akan Bertanya Mengapa



Mungkin Kamu Akan Bertanya Mengapa

Jika kau berkata ingin menjadi bunga yang indah aku memilih menjadi matahari. Mungkin kamu akan bertanya mengapa aku memilih menjadi matahari, bukan kupu-kupu yang bisa terus menemani bunga.
Jika kamu berkata ingin menjadi rembulan aku tetap memilih menjadi matahari. Mungkin kamu akan bertanya mengapa aku tetap ingin menjadi matahari. Kamu mungkin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu, tetapi ketahuilah aku ingin menjadi matahari.
Jika kamu berkata ingin menjadi phoenix yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari aku akan selalu menjadi matahari. Kamu mungkin akan kecewa dengan keinginanku untuk menjadi matahari.
Tapi tahukah kamu? Saat kau menjadi bunga, aku ingin menjadi matahari agar bunga dapat terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga agar ia tumbuh, berkembang dan terus tumbuh menjadi bunga yang indah. Walau matahari menyadari ia hanya dapat memandang dari jauh dan kupu-kupulah yang akan bermain bersama bunga. Ini disebut kasih—memberi tanpa pamrih.
Saat kau menjadi bulan, aku ingin menjadi matahari agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi. Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi ketika semua makhluk mengagumi bulan siapakah yang ingat pada matahari. Matahari rela memberikan cahanyanya untuk bulan walaupun ia sendiri tak mampu menikmati cahaya bulan, dilupakan jasanya, kehilangan kemuliaannya demi bulan. Ini disebut dengan pengorbanan—menyakitkan namun layak untuk cinta.
Saat kau menjadi phoenix yang dapat terbang tinggi jauh ke langit bahkan di atas matahari, aku tetap ingin menjadi matahari agar phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia ingin dan matahari tak akan mencegahnya. Rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh, namun matahari akan selalu menyimpan cintanya yang membara. Matahari akan selalu ada kapan pun phoenix ingin untuk kembali. Tidak ada makhluk lain selain phoenix yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cintanya. Ini disebut kesetiaan—meski ditinggal pergi dan dikhianati namun tetap menanti dan mau memaafkan.
Ketahuilah, aku tidak pernah menyesal menjadi matahari bagimu.
Inspired by Turtle

Thursday, July 25, 2013

Untuk Ayah yang Bukan Ayahku


Untuk Ayah yang Bukan Ayahku


Entah bagaimana aku harus memulai tulisan ini.
Aku mengenalmu—tapi tak tahu siapa namamu. Kamu mungkin tak mengenalku—tapi tahu namaku—sebatas nama. Ini memang terdengar sedikit aneh. Aku mengenalmu dari cerita seseorang, bagaimana rupamu hanya kulihat dari beberapa foto, lalu kau hidup dalam imajinasiku—tapi dirimu nyata adanya.
Satu hal yang kutahu pasti, bahwa dirimu adalah seorang ayah. Ayah yang hebat tepatnya—tapi ayahku tetap lebih hebat. Wahai Ayah yang bukan ayahku, aku mengagumimu. Dari cerita yang kudengar dari seseorang ada beberapa hal yang dapat kusimpulkan.
Kamu rapuh. Seperti batu karang, begitu tegar terlihat walau dihempas ombak berulang kali. Namun jika diperhatikan lebih dekat, ada banyak celah, banyak lubang, terkikis perlahan, perlahan—rapuh. Ini memang bukan hal yang mudah Ayah, aku dapat memahami walau tak terlalu tahu duduk perkaranya. Kau selalu saja terlihat baik-baik saja didepan mereka—anak-anakmu. Kamu menjaga wibawa dan juga perasaan mereka.

Kamu tak suka kesunyian. Ayah yang bukan ayahku,aku dapat memahami bahwa itu bukan hura-hura hingga kadang-kadang dirimu pulang malam. Hanya ada dua hal, pekerjaan atau sekedar berkumpul dengan teman. Kamu tidak egois jika berkumpul dengan teman sampai malam sedangkan anak-anakmu ada dirumah. Yang dapat kupahami, kamu tak suka kesunyian. Tinggal dirumah yang besar, anak-anakmu sibuk dengan urusan mereka sendiri, dan kamu semakin merasa sendiri. Jika kau pandangi inci demi inci rumahmu, kau dapati memori masa lalu ketika bahagia bersamamu. Kau mulai bernostalgia seorang diri, nostalgia yang membuatmu sedikit gila. Belum lagi, jika kau pandangi anak-anakmu yang sangat kau sayangi, mungkin kau akan bergumam sendiri—berhasilkah aku manjadi seorang ayah?. Inilah hingga kadang kamu kurang betah dirumah.
Banyak sekali air mata yang kuteteskan selama menulis tentangmu.

Mereka adalah apimu. Anak-anakmu adalah apimu. Selama mereka masih berkobar, kamupun akan selalu membara—berjuang demi mereka. Kamu terus bekerja keras bahkan terlalu keras hingga kadang tak memperhatikan dirimu sendiri. Hidupmu kau abdikan sepenuhnya untuk mereka. Semua yang kau lakukan selalu mengatasnamakan demi kebaikan mereka. Mungkin mereka sempat merasa terabai—merasa kau acuhkan. Wajar saja. Kamu harus memperhatikan banyak hal dalam hidupmu seorang diri. Dan kamu hanya manusia biasa yang tak mampu memperhatikan detail demi detail.
Ayah yang bukan ayahku, jaga kesehatanmu—demi  mereka. Jangan biarkan mereka mengkhawatirkanmu. Aku tak tahu pasti tentang dirimu, karena kau hanya hidup dalam imajinasiku. Kita belum pernah bercengkrama, tangan kita belum pernah saling berjabat, apalagi bertemu—belum pernah sama sekali. Apakah pendapatku tentang dirimu benar? Jika benar, tetaplah hidup dalam imajinasiku. Dan jika tidak benar, aku ingin tahu yang sebenarnya dari pertemuan yang nyata. Kamu mungkin membenciku tapi aku tidak, karena aku tak punya alasan sama sekali untuk itu. Justru aku menyayangimu walau mengenalmu hanya dalam cerita. Jika aku terlahir sebagai putrimu, aku tak perlu berkeliling dunia. Karena kuyakin, menyelami hatimu jauh lebih indah dan bermakna daripada menyelami samudera dan berkeliling dengan pikiranmu jauh lebih menyenangkan dan bermakna daripada mengelilingi benua di dunia.
Hanya ini yang dapat kutulis malam ini. Mataku sudah bengkak karena menangis sejak awal menulis judul ini. Hidungku juga mulai memerah seperti badut. Dan berulangkali aku mengusap kacamata yang mengembun lensanya karena air mata.
Ayah yang bukan ayahku semoga Tuhan menguatkan hatimu. Tetaplah membara!
Salam Hangat dariku (:
Indira Arum Puspitarani

Monday, July 22, 2013

Jika Aku Jatuh Cinta



Saya menemukan puisi ini ketika mengunjungi blog seorang kawan (:
Jika Aku Jatuh Cinta 

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(As-Syahid Sayyid Qutb)

Monday, July 15, 2013

Aku Mengagumi Makhluk Ciptaan-Mu



Aku Mengagumi Makhluk Ciptaan-Mu


Subhanallah Ya Allah, aku mengagumi makhluk ciptaan-Mu. Pria yang Engkau pertemukan denganku 1 tahun 9 bulan yang lalu. Pria yang kukagumi pikiran, hati , akhlak dan mata indahnya. Menurutku dia berbeda—sengajakah Engkau menciptakannya untukku?. Ya Allah Engkau tahukan jikalau aku menyayanginya? Engkau juga tahukan jikalau aku sangat peduli padanya?. Pastilah Engkau tahu, karena Engkau Maha Mengetahui.  Selalu kusebut namanya dalam percakapan kita setelah aku menunaikan sholat. Kusebut namanya dengan penuh harap yang diiringi air mata—aku juga tak mengerti mengapa.
Ya Allah Engkaulah yang membolak-balikkan hati manusia. Aku percaya pada firmanMu, termasuk Surah An-Nisaa di dalam Al-Qur’an—itukah alasannya Engkau pertemukan kami 1 tahun 9 bulan yang lalu?. Sungguh kukagumi makhluk ciptaanMu ini. Seringkali terlintas pikiran tentang dia diantara butiran tasbih ketika aku memujaMu. Pria yang selalu kusebut namanya dalam doa—aku menyayanginya. Dan Engkau yang selalu kupuja—aku menyayangiMu. Diapun begitu—menyayangiMu.

LinkWithin

wirhin content