Friday, August 24, 2012

Si Childish Pemikir yang Kritis Telah Pergi


Si Childish Pemikir yang Kritis Telah Pergi


Terkadang aku bosan. Bosan menerima sms darimu. Bosan dengan semua perhatianmu. Bosan dengan sikapmu yang seolah mengkhawatirkanku dan selalu ingin melindungiku. Enam bulan yang lalu, kamu jujur padaku bahwa menyukai diriku. Namun aku menganggapmu hanya sebagai seorang kakak, tidak lebih. Kita bertemu pada sebuah ruang aspirasi, saling bertukar pikiran, mengupas masalah yang ada dan akhirnya akrab. Kamu, yang aku anggap sebagai seorang kakak, aku menyayangimu walau terkadang rasa sebal membuncah karena tingkahmu yang over. 
Setiap kali, kamu kembali mengutarakan rasa yang menggebu dalam dada mu, aku merasa seolah badai menampar wajahku. Aku merasa tidak enak. Kamu sudah terlalu baik padaku, sangat baik dan aku menyayangimu.  Namun haruskah kukatakan bahwa aku juga menyukaimu hanya karena rasa iba?Terkadang aku mencoba menjauh darimu, menghilangangkan bayangan diriku dari setiap sudut pandanganmu, mengacuhkan smsmu. Tidak, bukannya aku sombong. Ini demi kebaikanmu, agar kamu tidak berharap terlalu banyak dariku. Aku tidak mau, engkau terlanjur membangun istana harapan dan aku menghancurkannya dengan sekali tiupan dan akan musnah dengan sekali kedipan mata. Maaf. 
Seminggu, dua minggu, sebulan , tidak ada kabar darimu. Tidak ada lagi  yang menyapaku di pagi, siang, sore dan malam hari dengan sapaan khas yang hanya dirimu yang tau. Tidak ada lagi yang menanyakan keadaaanku, aktivitasku dan segala tetek bengek tentang diriku. Tidak ada lagi kata-kata manis pengantar tidur yang sering kamu ucapkan melalui tulisan bisu bernama sms. Haruskah aku jujur? Haruskah kukatakan yang sebenarnya? Aku merindukanmu. Aku merindukan semua hal yang kamu lakukan padaku. Aku merindukan leluconmu yang selalu menghibur hari-hariku, dulu. Dirimu yang childish namun pemikir yang kritis, aku merindukanmu. 
Ada apa denganku? Aku mencari kata-kata yang tepat untuk menalarkan perasaan aneh ini, tapi tak kutemukan. Hanya dapat kunalarkan pada diriku sendiri dan juga dimengerti oleh diriku sendiri. Jemariku seringkali geli untuk menuliskan kata ‘hey’ lalu mengirimkannya pada 12 digit angka milikmu. Lalu aku menekan tombol cancel, berpikir sejenak apakah aku benar akan mengirimkannya kata itu? Ah, tidak perlu. Setiap hari diriku semakin aneh. Saat handphone-ku berdering senyumku mengambang, aku tertawa renyah menyangka itu darimu. Ketika kulihat dengan teliti nama pengirimnya, ternyata bukan darimu. Ada sebongkah rasa kecewa, segumpal galau yang mengadu. 
Hingga disuatu pagi, handphone-ku berdering. Ada secerca rasa ogah untuk membaca pesan yang masuk, sehingga aku hanya mengintipnya saja. Ribuan kupu-kupu seakan menyerangku, mencoba menggelitikku. Frekuensi degup jantungku semakin bertambah tiap detiknya, itu sms darimu. Rasa bahagia menyelimuti hatiku. Rasa rindu melebur bersama dentuman jarum jam. Dirimu kembali. Tapi ada yang beda, dirimu tidak sehangat yang dulu kukenal, masihkah engkau seperti dulu?. Aku bercerita tentang kejadian yang menarik selama dirimu tidak mengabariku, begitupun dirimu. Namun, ada satu cerita darimu yang seolah menghentikan aliran darahku, aku kaku. Aku merasa jauh lebih ringan seakan berat badanku turun 25kg, aku serasa melayang dibawa oleh angin yang berhembus. Organ tubuhku tak lagi berfungsi dengan baik. Pandanganku hampa, rasa kecewa kembali membuncah. Sesuatu yang hangat mengalir diujung mata. Kurasakan kepedihan mengalir melalui pembuluh darahku, menjadikan detak jantung ini melemah. Lemah dan semakin lemah. 
Ada apa denganku? Aku bertanya pada angin yang bertiup. Bukankah aku tidak menyukainya? Mengapa aku merasa seperti ini ketika tau dia telah bersama seorang temanku. Kala kutanya sejak kapan semua bermula, dirimu menjawab empat bulan yang lalu. Perasaanku semakin tidak karuan. Namun, aku masih bersikap biasa saja dihadapanmu, menyembunyikan pedang yang kini melukai diriku sendiri. Aku terluka, terluka parah. 
Aku tidak ingin mengusikmu, apalagi mengganggu ketenangan dirinya, seorang temanku. Kuakui akupun tidak terlalu mengerti perasaan apa sebenarnya yang kusembunyikan darimu. Kini, saat luka membelenggu, saat pekat melilit tubuhku, kuberikan senyum terindahku untukmu dan juga temanku. Dan aku akan pergi jauh dari kehidupanmu bersama rasa yang meggebu dalam kalbu.
Tahukah kalian siapa dirinya?? : )

Friday, July 20, 2012

Ini Rahasia! “Aku Mengagumi Dirinya” Part 1


Ini Rahasia! “Aku Mengagumi Dirinya”
Part 1


Ku akui mengaguminya dalam diam adalah sebuah ketololan. Aku memperhatikannya dari kejauhan, tak ada satu pun geraknya yang ingin  terlewatkan oleh mata ini. Hatiku serasa bersenandung saat mendengar alunan suaranya. Sering kita berpapasan tapi aku tak berani menyapa. Selalu ingin menyapa, tapi bibir kelu terasa. Hati ini bagai magnet, menarikku untuk mendekatinya. Tapi aku tak berani, ada rasa malu, rasa ragu dan takut yang membelenggu. Kadang, saat hati ini mulai mengamuk dan aku mulai tak mampu menahan rasa siksa karena nyamuk-nyamuk cinta menusuk, akhirnya ku sapa dirinya. 
“Hai” kataku sambil mengangkat tangan kananku sambil tersenyum. Dan dia hanya tersenyum kecut. Itu sudah membuatku sangat bahagia. Selang beberapa detik, tubuhku lemas, keringat bercucuran saat angin berhembus, parah. Ingin rasanya lompat kegirangan tapi tubuh ini terlalu lemas. Hari berikutnya, selalu sama. Apa yang kurasakan dan kulakukan. Memperhatikannya, mengikuti bayangnya, mencari segala sesuatu tentangnya sampai ke dunia maya. Selalu seperti itu, meski 4 bulan telah berlalu. 
Hingga, 7 June ..di hari Kamis. Senam pagi dilanjutkan dengan olahraga sesuai dengan minat masing-masing. Tapi aku tidak suka olahraga, aku lebih suka hanyut dalam buku yang ku baca ataupun menulis puisi. Aku duduk di depan lab. Ipa  yang sunyi, dengan notebook jingga bergambar kupu-kupu yang hinggap di bunga aku membiarkan jemari ini menulis mewakili hati.
Ketika hati telah terbius oleh rasa
Ketulusan tetap terjaga untukmu
Sekalipun luka begitu terasa
Namun hati tetap merindu
Dalam kata-kata penuh makna
Sekilas membahas asa
Untuk menunggu bersama rindu
Begitulah arti cinta dalam rasa
Menunduk ikhlas untukmu

“Naura! “ suara itu menghentikan jemariku. “Eh, Dewi kenapa?” tanyaku.
“Terbalik, harusnya yang tanya begitu aku, kenapa menyendiri di sini?”
“Kan tidak suka olahraga, jadi disini aja menulis, tadi kamu juga main volley kan sama teman-teman yang lain?”
“Iya juga sih, eh nulis apa sih?pasti tentang si Agas kan?”dengan mata yang penuh selidik.
“Udah tau masih nanya” kataku sambil menjulurkan lidah.
“Aneh, suka tapi nggak mau bilang, ke lapangan yuk” tangannya meraih tanganku, dan dengan pasrah aku mengikutinya. Masih ada sekitar 3 meter, aku melihat sesosok makhluk yang membuatku takluk, ah itu dia. Bagaimana ini??. Aku tidak mau terlihat bodoh atau konyol didepannya. Ah, I have an idea. 
“Wi, habis main volley pasti capek kan? Haus kan? Ke kantin yuk”
“Iya, boleh juga, dari tadi belum minum nih Naura”. Yes, sukses. Di dalam kantin, sebisa mungkin aku berbicara tentang banyak hal sama Dewi sampai bel masuk bunyi, supaya tidak jadi ke lapangan dan bertemu Agas. “Eh, Naurak kenapa sih tidak mau bilang suka ke Agas?”tanya Dewi. “Ih, Naura! Ananda Naura Calessya. Bukan Naurak!” jawabku ketus. Dewi tertawa kegirangan. Dan, saat aku menoleh ke kanan, ku lihat dirinya dengan keringat yang bercucuran masuk ke kantin. Ah kenapa dia harus kesini? Ribuan kupu-kupu terasa menggelitik hatiku, saat ini hanya satu yang ku pinta, ku harap bel masuk segera berbunyi. Dan, Tet…Tet..Tet…akhirnya, aku tersenyum puas.

Friday, June 22, 2012

Real : Galau Yang Menggila

Galau Yang Menggila
Kala aku sudah menunduk ikhlas akan pilihan yang telah di tetapkan dengan egois, tiba-tiba pilihan lain datang merayu ku menjadikan ku takluk. Kini aku telah lepas dari penjara egois, posisiku sebagai nahkoda akan kapalku sendiri telah di berikan. Kala kendali ada di tanganku, aku bingung, bimbang dan galau mengekang!! ah, aku bisa gila
Apa yang harus aku pilih? Arah mana yang harus ku tempuh ??


Real : Mata Minus Tinggi VS Mata Yang Berbinar


 
Mata Minus Tinggi VS Mata Yang Berbinar
Pertemuan kita waktu itu, telah di atur oleh Sang Penulis Skenario hidup ini. Naskah drama hidup ini tak pernah di baca oleh siapapun kecuali Dia, Sang Penulis. Aku bersyukur di pertemukan oleh actor(baca : Mr. R.O ) saat lomba CESS IV. Pertemuan yang tak terduga itu, telah membawa perubahan dalam hidupku. My Rainbow in the dark, its him (baca : Mr. R.O). 
Dari puluhan kepala yang ada di aula sebagai peserta untuk mengikuti Technical Meeting malam itu, ada satu kepala yang memancarkan cahaya putih seperti lampion. Pusat sinar itu adalah sepasang bola mata yang berbinar. Sekilas wajahnya mirip si Jago Fisika dari IMMIM yang pernah ikut CESS III, dulu aku mengagumi keahliannya dalam menghitung pembayaran listrik (Baca : pelajaran Fisika) hahhahaa. Tapi ternyata Mr. R.O yang ku temui di CESS IV bukan lah si juru hitung pembayaran listrik. Dari pandangan pertama yang menarik dari MR. R.O hanyalah mata yang berbinar itu. Malam itu berlalu. 

 Hari pertama tidak ku sangka mata berbinar milik Mr. R.O itu memiliki kekuatan magis. Sepasang bola mata itu bisa menghipnotis sepasang bola mataku ini untuk terus memperhatikannya. Rasanya ingin tidur saja, agar mataku ini tertutup sepanjang hari(heh??memangnya Sleeping Beauty?). Di hari pertama itu, mata ini tak bisa ku control. Selalu saja ingin memperhatikan si Mr. R.O itu. Saat itu penderitaan ku bermulai. Bagaimana tidak, mata dengan minus yang cukup tinggi ini harus bekerja lebih keras. Ckckckck.
 Hari kedua, kupikir setelah mata ini beristirahat ia akan berhenti memperhatikan orang itu. Dan ternyata tidak. Bahkan kekuatan mata yang berbinar itu bertambah, makin sakti. Entah dimana mata itu berguru, Nyi Pelet, Nyi Roro Kidul, Nyisir ah nggak tau haha. Selain mata ini terhipnotis untuk selalu memperhatikannya, hati ini seperti ada yang mengetuk, awalnya seperti orang dari panti asuhan minta sumbangan yang mengetuk, pelan. Tapi lama kelamaan suara ketukan itu berubah seperti Mike Tyson, si jago tinju kelas kakap yang ngetuk pintu. Dalam tubuh ini juga ada yang bergetar seperti gempa yang berpotensi tsunami, dahsyat. Tapi ku sembunyikan dengan berjalan tegak seperti seorang pramugari. Dan satu lagi, mata ku yang berminus tinggi ini tiba-tiba jadi sakti. Mata ku ini dapat merekam kejadian dan memutarnya kembali di malam hari. Tapi, ERROR!. Yang di rekam sama mata ku ini Cuma si Mr.R.O. gila kan? Mataku sekarang seperti magnet. Setiap dia melihat orang itu, mata ini akan menarik bibir hingga terbentuk lengkungan ke atas. Malam itu aku keluar kamar, dan keluar dari ASPUTER. Eh ketemu kucing, melihat mata kucing yang kayak pake softlenss itu, aku pun berbincang. 
“Hai Cing”sapaku”Eh, mata kamu bagus deh cing tukeran yuk, sementara aja kalo udah pulang ke rumah kita gantian lagi deh” 
“Meong!”
“Soalnya mataku ini udah kena sihir, mau yah cing”
“Meong!”
“Ih, meong terus!” karena kesal aku pun kembali ke ASPUTER. Di tangga menuju kamar, jadi kepikiran kalo mata ini di tukar sama mata kucing kasihan kucingnya. Pasti kalo jalan dia sempoyongan, kan mataku ini minus. Sedangkan aku? Yah mungkin masuk On The Spot karna punya mata yang unik. 
Hari ketiga. Kerusakan mata ini karna terhipnotis mata yang berbinar itu semakin parah. Sekarang, mataku jadi detektif. Kalo si mata berminus tinggi ini tidak melihat mata yang berbinar itu, mata ini akan melirik kiri kanan kayak orang juling kalo tidak terdeteksi kepala ini siap berputar seperti burung hantu (parah juga yah). Nah, tapi anehnya kalo mata yang berbinar itu sudah ketemu, mata berminus tinggi ini mengalihkan pandangan. Dan kembali ada yang berguncang di dalam perut (lapar dong) di dalam dada maksudnya. Lebih parah dari wahana putar-petir di Trans Studio.

Wednesday, May 30, 2012

Poem : Seonggok Kisah Pilu Milik Pohon


Seonggok Kisah Pilu Milik Pohon

Ku bercerita pada embun
Yang membasuh daun layuku
Menenangkan pikiranku
Dari seonggok kisah piluku
Ku berbisik pada rumput
Yang meliuk-liuk
Tergelitik angin
Tentang seonggok harapanku
Ku mengadu pada gunung-gemunung
Betapa angkuh mereka kepadaku
Membunuh, memutilasiku
Dengan gigi busuk besi dan senyum kaku
Ku menangis pada mentari
Karena tirani      
Melilit nurani
Kala keegoisan merajai
Ku berteriak pada malam
Dan awan gemawan
Tentang kuburan tanpa darah dan nisan
Milk saudaraku
Ku terpaku menatap bulan
Tubuhku kaku
Daunku layu
Menanti maut menyapu
Mungkin esok
Aku akan jatuh di tanah ego
Daunku rontok termakan ulat
Dan tanah ini akan menjadi pemakaman tanpa nisan
Biarkan ruhku yang bertanya                   
Pada jiwa tirani dan ego
Sampai kapan mereka akan membuat pemakaman tanpa nisan?

Poem : Malaikat Tak Bersayap


Malaikat Tak Bersayap

Dalam kesendirianku di kamar
Saat semua orang telah bungkam
Dan sibuk dengan mimpinya
Hanya bintang-bintang dan bulan yang bercanda
Hanya hewan nocturnal yang menguasai malam
Aku merenung….
Dalam kesendirianku di kamar
Aku berpikir
Dari manakah asalnya wanita itu??
Apakah ia datang dari langit?
Dari apakah wajahnya terbuat?
Apakah dari cahaya putih di surga?
Dari apakah hatinya dibuat?
Apakah dari baja?
Tapi tidak,, hatinya lembut
Dalam kesendirianku di kamar
Aku mencari buku-buku tentangnya
Di perpustakaan otakku
Jika kusalah, bibirnya tetap melengkung indah
Jika ku marah, wajahnya yang terbuat dari cahaya tetap bersinar
Jika ku sedih, tangan lembutnya menyentuh pipi
Mengusap butiran bening kepekatan
Jika kurapuh dan dingin, ia mengangkatku dan peluknya hangakan jiwa dan ragaku
Jika kusakiti hatinya, wanita itu tetap lembut padaku
Jika ku ragu, mantranya meyakinkanku
Hatinya,adalah ruang belajar yang paling nyaman untuk anak-anaknya
Siapakah wanita itu?
Apakah ia hanya khayalan ?
Tak mungkin, ia hadir dan dapat kusentuh
Apakah ia malaikat?
Tapi ia tak bisa terbang
Tak punya sayap
Lalu siapakah dia?
Mungkinkah ia malakita tak bersayap?

LinkWithin

wirhin content